telusur.co.id -JAKARTA - Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Aliansi Mahasiswa Indonesia menggelar diskusi publik bertema “Mengawal Kebijakan Pendidikan Nasional: Peran Aktif Mahasiswa untuk Masa Depan Indonesia”, pada Senin (04/5/2026) di Ruang Seminar Lantai 3 Gedung AB Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen mahasiswa lintas organisasi serta menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan aktivis mahasiswa nasional. Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti peran strategis mahasiswa dalam merespons dan mengawal arah kebijakan pendidikan nasional.
Ketua panitia, Charles Gilbert, dalam sambutannya menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral dan intelektual sebagai agen perubahan. Ia menyampaikan bahwa mahasiswa tidak hanya menjadi objek pendidikan, tetapi juga subjek aktif yang berperan dalam menjaga kualitas dan arah kebijakan pendidikan di Indonesia.
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Kristen Indonesia, Dr. Hendri Jayadi, S.H., M.H., dalam pemaparannya menekankan bahwa mahasiswa merupakan representasi utama perguruan tinggi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mampu menjadi promotor institusi sekaligus motor penggerak perubahan sosial.
“Mahasiswa harus mampu bersikap kritis terhadap berbagai praktik akademik, termasuk potensi eksploitasi dalam dunia pendidikan. Selain itu, penting untuk membangun sinergi antara kampus dan organisasi mahasiswa guna menciptakan budaya akademik yang partisipatif dan konstruktif,” tandasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas mahasiswa, baik dalam aspek akademik maupun soft skills, terutama dalam menghadapi era disrupsi teknologi yang ditandai dengan perkembangan pesat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Diskusi ini juga menghadirkan Angga Febrianda, Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Visioner Indonesia, yang menekankan pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas organisasi mahasiswa dalam mendorong transformasi pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Selain itu, Ahmad Tomi Wijaya selaku Koordinator Pusat BEM Pesantren Seluruh Indonesia menyoroti pentingnya integrasi pendidikan keagamaan dan nasional, serta peran pesantren dalam mencetak sumber daya manusia unggul di tengah tantangan modernisasi.
Sementara Fatham Mubina, Koordinator Pusat Nasional BEM/DEMA PTAI se-Indonesia, menekankan perlunya konsolidasi gerakan mahasiswa nasional sebagai kekuatan kolektif dalam mengawal kebijakan pendidikan yang berkeadilan.
Dalam sesi tanya jawab, peserta diskusi turut menyoroti rendahnya minat sebagian mahasiswa dalam mengikuti kompetisi, penelitian, dan organisasi. Menanggapi hal tersebut, Dr. Hendri menyampaikan bahwa meskipun terdapat keterbatasan kuota dalam kompetisi dan penelitian, mahasiswa tetap memiliki ruang untuk berkembang melalui organisasi dan membangun jaringan sejak dini.
Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar mahasiswa semakin aktif, kritis, dan konstruktif dalam berkontribusi terhadap pembangunan pendidikan nasional. Diskusi publik ini juga menjadi momentum refleksi bersama dalam memperkuat sinergi antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya demi mewujudkan pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. (ari)



