telusur.co.id - Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) membantah melakukan serangan rudal maupun drone terhadap Uni Emirat Arab dalam beberapa hari terakhir, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Melalui laporan media pemerintah IRIB, juru bicara Markas Besar IRGC Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa tidak ada operasi militer semacam itu yang dilakukan oleh Teheran. IRGC juga menyebut tuduhan dari Kementerian Pertahanan UEA sebagai klaim yang tidak berdasar.
Meski demikian, IRGC mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap serangan terhadap Iran yang berasal dari wilayah UEA akan dibalas dengan tegas. Mereka juga menuding UEA memberikan akses bagi pasukan Amerika Serikat dan Israel untuk beroperasi dari wilayahnya, serta mendesak otoritas Emirat agar tidak menjadi basis bagi kekuatan yang dianggap sebagai musuh.
Pernyataan ini muncul di tengah laporan serangan yang menargetkan UEA selama dua hari berturut-turut. Otoritas setempat mengklaim sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang disebut diluncurkan dari Iran. Salah satu insiden sebelumnya dilaporkan menyebabkan kebakaran besar di kawasan industri minyak di Fujairah.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Teheran serta gangguan terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan pada 8 April, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan permanen. Gencatan senjata itu kemudian diperpanjang oleh Donald Trump tanpa batas waktu yang jelas.
Sejak 13 April, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di kawasan tersebut, semakin memperkeruh situasi keamanan di Teluk dan memicu kekhawatiran global atas stabilitas kawasan. [ham]



