telusur.co.id -SURABAYA - Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menjadi tuan rumah kegiatan Training of Trainers (ToT) bertema Teaching Methodology and Gender, yang merupakan bagian dari program Renewable Energy Skill Development (RESD).
Program ini adalah hasil kerja sama antara pemerintah Swiss dan pemerintah Indonesia dalam rangka penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT).
Selain dukungan hibah peralatan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang saat ini telah mulai dipasang di sejumlah politeknik dan memasuki batch kedua pada tahun 2026, program RESD juga menekankan pentingnya penguatan kompetensi dosen sebagai pengajar vokasi.
Melalui kegiatan ToT ini, para dosen dipersiapkan tidak hanya secara teknis, tetapi juga secara metodologis dan perspektif sosial, khususnya dalam pembelajaran yang inklusif dan responsif gender.
Kegiatan ToT Teaching Methodology and Gender ini berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat, 4-8 Mei 2026, pukul 08.30-17.00 WIB, bertempat di kampus PENS, Surabaya. Sebanyak 20 peserta dari 10 instansi politeknik penerima hibah turut ambil bagian dalam kegiatan ini.
Pada sesi pembukaan, Direktur PENS Arif Irwansyah menyampaikan sambutan yang menegaskan komitmen PENS dalam mendukung penguatan pendidikan vokasi, khususnya di bidang energi terbarukan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan pembukaan oleh Team Leader RESD, Dian Elvira Rosa, yang menekankan pentingnya sinergi antara peningkatan kapasitas SDM dan pemanfaatan teknologi dalam program kerjasama Swiss–Indonesia.
Selanjutnya, arahan strategis disampaikan oleh Direktur Belmawa, Beny Bandanadjaja, yang menggarisbawahi peran penting politeknik dalam menyiapkan tenaga terampil yang adaptif, inklusif, dan siap menjawab tantangan global di sektor energi baru terbarukan.
Adapun narasumber utama berasal dari Swiss Federal Institute for Vocational Education and EHB, yaitu Sophie Murat dan Daniel Pellaux, yang memiliki pengalaman luas dalam pengembangan pendidikan vokasi berbasis kompetensi di tingkat internasional.
Kegiatan ini memiliki beberapa tujuan utama. Pertama, meningkatkan pemahaman dosen tentang prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa (andragogi). Kedua, meningkatkan keterampilan dosen dalam merancang dan menyampaikan materi pelatihan yang interaktif dan partisipatif.
Ketiga, meningkatkan kesadaran instruktur terhadap isu kesetaraan gender dalam pelatihan vokasi. Keempat, mendorong penerapan praktik pengajaran yang inklusif dan responsif gender.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para dosen politeknik mampu mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan masyarakat, sekaligus membangun ekosistem pendidikan vokasi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Sebagai tuan rumah, PENS tidak hanya memfasilitasi kegiatan pelatihan, tetapi juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan SDM unggul di bidang energi terbarukan.
Sinergi antara penguatan infrastruktur (melalui hibah PLTS) dan peningkatan kapasitas pengajar diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mencetak lulusan vokasi yang siap menghadapi tantangan transisi energi global. (ari)



