telusur.co.id - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah menyampaikan pesan tertutup kepada Iran terkait rencana operasi militer di Selat Hormuz guna mengawal kapal-kapal yang berusaha keluar dari kawasan tersebut.
Menurut laporan portal berita Axios, Gedung Putih berupaya mencegah eskalasi konflik dengan meminta Teheran untuk tidak mengganggu operasi yang kemudian diumumkan sebagai “Project Freedom”. Meski demikian, laporan itu juga menyebut adanya dugaan serangan dari Iran terhadap kapal Angkatan Laut AS.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Washington terus berkomunikasi dengan Iran, baik secara terbuka maupun tertutup, untuk memastikan kelancaran pelaksanaan operasi tersebut. Ia menegaskan bahwa Presiden Donald Trump masih membuka opsi untuk melanjutkan operasi militer skala besar jika tidak tercapai kesepakatan.
“Project Freedom” diumumkan oleh Trump pada 3 Mei sebagai langkah untuk menjamin keamanan pelayaran di kawasan. Komando Pusat Amerika Serikat menyebut dukungan militer dalam operasi ini mencakup kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat darat dan laut, platform nirawak multi-domain, serta sekitar 15.000 personel.
Operasi tersebut resmi dimulai pada Senin pagi, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata dua pekan yang diumumkan pada 7 April. Namun, perundingan lanjutan di Islamabad, Pakistan, tidak menghasilkan kesepakatan yang berkelanjutan.
Trump kemudian memperpanjang penghentian serangan guna memberi waktu bagi Iran untuk menyusun “proposal terpadu”, meski situasi di kawasan tetap tegang dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut. [ham]



