Oleh : Anab Afifi (Penulis Buku _Ayat-ayat yang Disembelih_)
Adakah banjir yang melebihi banjirnya Jakarta? Semestinya ada.
Hanya beritanya tidaklah sama. Tidak sehingar-bingar berita banjir Jakarta. Kicauan tentang banjir tidaklah semasif tentang banjir Jakarta.
Pagi ini saya mendapat kiriman video banjir yang begitu mengerikan. Air berwarna merah menggelombang itu bergerak cepat. Dalam hitungan detik setelah air itu mencapai atap bangunan, segera menghempaskan bangunan SMP.
Setelah saya lacak, horor pagi itu terjadi di Kabupaten Lebak, Banten. Rupanya dua sekolah SMP lenyap.
Tidak hanya itu. Sebanyak 28 jembatan rusak. Beberapa diantaranya ambrol dan roboh. Lalu 2000 orang mengungsi.
Sementara di kawasan tetangganya, Tangerang juga mengalami banjir serupa. Dengan skala yang berbeda.
Di Kelapa Dua, saya memperoleh laporan dari seorang kawan: sebuah SMA juga tergenang air setinggi tembok.
Tak jauh dari lokasi ini, sekitar tiga kilometer ke arah timur, sebuah perumahan elit nan asri tenggelam. Perumahan ini mengitari danau di hadapannya. Begitu indah dan asri.
Namun, perusahaan pengembang cukup tanggap. Para pengguhuni kawasan itu diungsikan ke sebuah hotel di kawasan kota mandiri tersebut. Tidak ada berita terkutip oleh media dari kejadian itu.
Untuk mengilustrasikan seberapa tinggi banjir di kawasan elit ini tidaklah sulit. Dengan cara membandingkan posisi ketinggian kluster perumahan ini dengan permukaan air sungai di dekatnya.
Di sebelah perumahan ini membelah Sungai Cisadane yang lebar dan dalam. Biasanya, air sungai tersebut berada sekitar lima meter dari permukaan jalan. Kali ini, airnya melonjak naik hingga dinding perumahan elit tersebut.
Jika Anda mendapat kiriman video viral sebuah BMW berwarna putih yang hanyut itu, maka kejadian itu juga tidak jauh dari kawasan tersebut. Di sebuah perumahan elit pula. Tapi itu tejadi di Serpong, Tangerang Selatan.
Masih banyak lagi titik-titik banjir di kawasan Tangerang. Diantaranya adalah Cileduk.
Jadi selain di Lebak, Tangerang, Tangerang Selatan, masih banyak titik lokasi banjir di luar Jakarta. Seperti Bekasi dan Bogor. Kawasan Bekasi yang paling parah adalah di Jati Asih.
Banjir di Lebak, menghempaskan kawasan di lima kecamatan. Paling tidak itu menjangkau 75 desa. Jika setiap kecamatan itu terdapat paling tidak 15 desa. Pun, bisa jadi itu juga mencapai 100 desa.
Saya tidak tahu berapa luas kawasan lima kecamatan itu. Tapi jika mau melihat luasan banjir Jakarta yang menerjang 95 kelurahan di kawasan Jakarta Timur dan Jakarta Barat itu, tentu tidaklah dapat dibandingkan secara apple to apple.
Sebab, struktur geografis dan sosialnya berbeda. Selain itu, luas sebuah desa secara geografis akan lebih luas dari sebuah kelurahan. Namun, kepadatan penduduknya tidaklah sebanding dengan penduduk di 95 kelurahan di Jakarta itu.
Jika luasan area banjir serta dampak kerusakan yang terjadi di Lebak itu digabungkan dengan beberapa kawasan di Tangerang, Tangerang Selatan, Bekasi, Kota Bekasi, dan Bogor, barangkali akan jauh lebih besar dibandingkan dengan yang di Jakarta Timur dan Jakarta Barat.
Dari sisi jumlah korban banjir, tampaknya Bekasi juaranya. Dari total 183.530 pengungsi banjir Jabodetabek, 149.537 di Kota Bekasi.
Jadi, ada dua kondisi faktual yang sangat kontras. Antara banjir Jakarta dan banjir di kawasan pinggirannya.
Hanya satu perbedaan diantara keduanya: respon nettizen lebih nyaring membahas banjir Jakarta dengan segala bentuk ekspresinya. Bahkan, tidak sedikit keluar ketikan jempol amarah para nettizen yang tidak tinggal dari DKI.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan: perubahan iklim yang terjadi meningkatkan risiko dan peluang curah hujan ekstrem sehingga menjadi pemicu banjir Jakarta. Ini dikemukakan oleh Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal.
Hefrizal mengatakan: curah hujan kali ini mencatatkan rekor curah hujan tertinggi sejak 1866.
Para pakar juga mengatakan penyebab banjir di Jakarta sejatinya bukan hanya masalah curah hujan ekstrem dan fenomena meteorologis. Akan tetapi, ada beberapa faktor lain seperti besarnya limpasan air dari daerah hulu. Juga karena berkurangnya waduk dan danau tempat penyimpanan air banjir.
Permasalahan menyempit dan mendangkalnya sungai akibat sedimentasi dan penuhnya sampah. Rendaman rob akibat permukaan laut pasang serta faktor penurunan tanah (ground subsidence) yang meningkatkan risiko genangan air. Dua keadaan ini menambah daftar penyebab banjir.
Sementara itu, ahli hidrologi dari UGM, M. Pramono Hadi, menyebutkan penyebab utama dari banjir ini adalah hujan yang merata dan jumlahnya banyak. Serta kondisi ‘surface storage’ sudah jenuh dengan air.
Dari semua faktor itu, BMKG kembali menegaskan bawah curah hujan ekstrem menjadi penyebab paling dominan banjir yang terjadi di Jakarta.
Sebagaimana yang sudah-sudah. Banjir Jakarta memang memberikan peristiwa ikutan yang dinamis di dalam masyarakat.
Kita membaca banyak perdebatan. Kritik dan bahkan kecaman terhadap pengelola Jakarta. Gubernur dinilai sementara pihak tidak becus. Semua berseliweran di media sosial dalam beragam pikiran.
Diantara yang paling menonjol adalah mengenai normalisasi. Pengelola Jakarta dianggap tidak paham menangani normalisasi sungai. Para nettizen juga menyerang soal anggaran normaliasi sungai yang dikurangi.
Kecaman tersebut lalu dikonter oleh nettizen lain. Mereka mengemukakan argumentasi bahwa normalisasi Sungai Ciliwung itu bukan ranah Gubernur DKI. Itu wilayah tanggung jawab Kementerian PUPR.
Konter balik tersebut ditambah dengan kabar konon anggaran DKI minus sebagai akibat dana perimbangan dari Pusat yang menjadi jatah Jakarta ternyata belum cair. Itulah alasan mengapa dana normalisasi dikurangi. Pun, ini juga mesti harus dicek kebenarannya.
Itu adalah diantara kejadian yang mewarnai drama banjir Jakarta yang sudah berulang kali terjadi sejak dulu. Sejak lima tahun terakhir ini, memang terasa sekali warna-warninya.
Menyimak semua kicauan itu bisa menumbulkan beragam respon. Bisa geram. Bisa jengkel. Bisa juga tertawa geli. Mereka berbantah-bantah tiada habisnya.
Padahal, semua itu sesungguhnya adalah respon spontan. Tidak bisa dibendung. Sebagaimana air bah yang yang datang tiba-tiba menggenangi kota-kota.
Terlepas apa pun isi, gaya penyampaian, serta motif di balik semua ocehan tersebut, mereka sesungguhnya menyepakati satu hal: tidak suka banjir!
Semua akan mereda dengan sendirinya. Seiring curah hujan yang turun normal dan tidak se-ekstrim pada 1 Januari 2020. Curah hujan yang boleh dicatat dalam sejarah sebagai yang paling eksrtrim dan massif sejak 154 tahun silam.
Jika semua sebab alamiah itu tidak diterima. Jika semua itu bukan sebab dosa-dosa kerusakan yang ditumbulkan jutaan penduduk kota. Jika semua itu terjadi karena kesalahan. Jika tidak ada yang mau disalahkan atau tidak boleh menyalahkan siapa saja. Jika semua yang sudah diupayakan dengan susah payah itu tetap salah.
Maka, pasti semua itu salahnya Anies!



