telusur.co.id - Situasi keamanan di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz semakin memprihatinkan. Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sedikitnya 29 serangan terhadap kapal sipil sejak konflik di sekitar Iran meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Serangan-serangan tersebut tidak hanya mengganggu jalur perdagangan global, tetapi juga menciptakan krisis kemanusiaan di laut. Sekitar 20.000 pelaut yang berada di lebih dari 1.600 kapal kini terjebak di kawasan berbahaya tersebut, menghadapi ancaman kekurangan air, makanan, dan bahan bakar.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyampaikan bahwa pihaknya tengah bekerja sama dengan negara-negara anggota untuk menyiapkan rencana evakuasi. Prioritas akan diberikan kepada kapal dengan kondisi paling mendesak, terutama yang menghadapi krisis logistik.
“Keselamatan para pelaut menjadi perhatian utama kami. Rencana evakuasi telah disusun dan siap dijalankan ketika situasi memungkinkan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Konflik ini dipicu oleh serangan militer bersama yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran pada akhir Februari lalu, yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Ketegangan sempat mereda setelah diumumkannya gencatan senjata dua pekan pada 8 April.
Namun, harapan akan perdamaian memudar setelah perundingan yang digelar di Islamabad berakhir tanpa hasil berarti. Meski belum ada laporan pertempuran lanjutan, kebijakan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat masih berlangsung, memperparah kondisi di kawasan.
Dengan meningkatnya risiko di jalur pelayaran strategis dunia ini, komunitas internasional kini menghadapi tekanan untuk segera menemukan solusi, sebelum krisis kemanusiaan di laut berubah menjadi tragedi yang lebih besar. [ham]



