telusur.co.id - Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan fokus utama pada akurasi data dan ketepatan sasaran penerima manfaat. Program ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas gizi peserta didik di madrasah dan pesantren di seluruh Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi'i dalam rapat koordinasi penyelarasan data MBG di Jakarta, Kamis (23/4/2026), yang turut melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait.
Dalam paparannya, Kementerian Agama menyebut memiliki sekitar 15,6 juta penerima manfaat potensial, yang terdiri dari santri dan siswa madrasah. Jumlah ini menjadikan sektor pendidikan keagamaan sebagai salah satu sasaran terbesar dalam implementasi MBG.
“Ini bukan sekadar dukungan administratif, tetapi kebutuhan nyata di lapangan,” tegas Syafi’i.
Untuk memastikan program berjalan tepat sasaran, Kementerian Agama Republik Indonesia tengah memperkuat sistem Satu Data Kementerian Agama. Langkah ini dilakukan agar data lebih akurat, terintegrasi, dan mudah disinkronkan dengan kementerian lain.
Salah satu perhatian utama Kemenag adalah kompleksitas data di lingkungan pendidikan keagamaan. Banyak siswa madrasah yang juga merupakan santri di pesantren, sehingga berpotensi terjadi tumpang tindih data.
Karena itu, Kemenag mengusulkan pendekatan sederhana dalam klasifikasi penerima, yakni “Santri” dan “Non-Santri” untuk mempermudah pemetaan dan evaluasi program.
Rapat koordinasi ini juga dihadiri oleh Badan Gizi Nasional, yang menegaskan pentingnya integrasi data lintas sektor agar program MBG benar-benar menyasar kelompok yang paling membutuhkan, termasuk wilayah rawan stunting.
Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, menekankan bahwa kualitas data menjadi fondasi utama keberhasilan program.
“BGN sangat bergantung pada data yang terintegrasi dari seluruh kementerian,” ujarnya.
Dari sisi kependudukan, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka menyoroti pentingnya pembaruan data kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang sifatnya dinamis dan terus berubah.
Sementara itu, Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi menegaskan bahwa pendekatan berbasis data memungkinkan intervensi gizi lebih tepat sasaran dan efektif.
Program MBG sendiri dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia, terutama di lingkungan pesantren yang berperan besar dalam pembentukan karakter generasi muda.
Dengan penguatan data dan kolaborasi lintas kementerian, pemerintah berharap program ini tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas gizi dan masa depan peserta didik di Indonesia.



