telusur.co.id - Menteri Pertahanan sementara Iran, Brigadir Jenderal Majid Ebn al-Reza, mengklaim kapasitas produksi drone negaranya meningkat hingga tiga kali lipat selama perang 12 hari melawan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan Ebn al-Reza dalam pertemuan dengan sejumlah anggota parlemen Iran pada Sabtu. Ia membahas evaluasi konflik terbaru yang disebutnya sebagai “perang agresi AS-Israel” serta dampaknya terhadap kemampuan pertahanan Iran.
Menurutnya, pihak lawan memasuki medan perang dengan dukungan dari sekitar 150 perusahaan teknologi terkemuka serta menggunakan perangkat militer modern. Namun, ia menyatakan upaya tersebut gagal karena adanya arahan dari pemimpin tertinggi Iran dan dukungan masyarakat.
Ebn al-Reza menilai kinerja Angkatan Bersenjata Iran selama konflik berlangsung menunjukkan kemampuan adaptasi dan inovasi yang tinggi, meski harus kehilangan sejumlah komandan militer.
Ia mengatakan sektor pertahanan Iran tetap berjalan tanpa gangguan di tengah peperangan. Bahkan, pada puncak konflik, produksi sejumlah peralatan militer, termasuk drone, disebut terus meningkat.
“Perang tersebut menjadi pendorong kemajuan teknologi pertahanan Iran,” ujar Ebn al-Reza, seraya menekankan pentingnya mengidentifikasi kelemahan pihak lawan secara tepat untuk meningkatkan kemampuan militer.
Selain perkembangan teknologi pertahanan, Ebn al-Reza juga menyoroti besarnya dukungan masyarakat Iran dalam berbagai kegiatan nasional, termasuk prosesi pemakaman para korban perang.
Ia menyebut tingginya jumlah warga yang menghadiri pemakaman para martir sebagai tanda munculnya gelombang baru dukungan terhadap gerakan perlawanan serta bukti bahwa upaya untuk mengisolasi Iran tidak berhasil.
Pernyataan tersebut muncul setelah Iran dan pihak-pihak terkait melewati periode konflik yang disebut Teheran sebagai perang 12 hari, yang menjadi salah satu ketegangan militer terbesar di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.



