Ahli Gizi UNAIR Bagikan Tips Memilih Kue Kering Lebaran yang Aman dan Berkualitas - Telusur

Ahli Gizi UNAIR Bagikan Tips Memilih Kue Kering Lebaran yang Aman dan Berkualitas

Ahli gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi. Foto: Istimewa.

telusur.co.id -Hidangan kue kering menjadi salah satu sajian khas yang selalu hadir saat perayaan Idul Fitri di Indonesia. Beragam jenis kue seperti Nastar, Kastengel, hingga Putri Salju kerap tersaji di meja tamu sebagai suguhan bagi keluarga maupun kerabat yang bersilaturahmi.

Namun di balik kelezatan tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam memilih produk kue kering yang aman dan berkualitas. Ahli gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, mengingatkan pentingnya memperhatikan beberapa aspek sebelum membeli kue kering, terutama terkait bahan tambahan pangan dan keamanan produk.

Mahmud menjelaskan bahwa penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pengawet, pemanis, maupun pewarna sebenarnya diperbolehkan selama mengikuti aturan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Meski demikian, masyarakat tetap perlu waspada terhadap kemungkinan penggunaan bahan tambahan yang ilegal atau tidak terdaftar oleh produsen yang tidak bertanggung jawab.

Ia menyarankan konsumen untuk memperhatikan kondisi fisik kue sebelum membeli, salah satunya melalui tampilan warna dan aroma.

"Jika warna kue tampak sangat mencolok atau tidak natural, sebaiknya dihindari. Selain visual, indra perasa juga menjadi indikator penting. Jika saat dicicipi kue sudah mengeluarkan rasa atau aroma tengik, itu pertanda lemak dalam kue telah teroksidasi dan sebaiknya jangan dikonsumsi sebagai kudapan lebaran," ungkapnya.

Selain bahan baku, kualitas kue kering juga dipengaruhi oleh proses pengemasan. Mahmud menekankan pentingnya memeriksa tanggal kedaluwarsa maupun keterangan best before yang tercantum pada label produk.

Ia juga mengingatkan agar konsumen memastikan kondisi kemasan dalam keadaan baik dan tersegel dengan rapi, terutama untuk produk yang dijual di area terbuka yang berpotensi terpapar debu dan polusi.

"Pastikan kemasan tidak bocor, pecah, atau retak. Adanya izin edar akan memberikan keyakinan lebih bahwa produk tersebut memang masih segar dan layak konsumsi karena telah melalui pengawasan," tambah Mahmud.

Menurutnya, produk dari pelaku UMKM atau industri rumahan juga harus memenuhi standar keamanan pangan. Wadah penyimpanan sebaiknya tersegel rapat sejak dari produsen untuk mencegah kontaminasi dari luar.

Di sisi lain, Mahmud juga mengingatkan masyarakat untuk mengontrol konsumsi kue kering selama Lebaran. Mengingat kue kering umumnya tinggi gula dan kalori, ia menyarankan penerapan prinsip 3J, yakni jenis, jumlah, dan jadwal konsumsi.

Sebagai makanan selingan, porsi kue kering sebaiknya tidak melebihi sekitar 10–20 persen dari total kebutuhan kalori harian. Hal ini penting untuk mencegah lonjakan kadar gula darah setelah menjalani puasa selama sebulan.

"Jika memiliki waktu luang, membuat kue sendiri dengan bahan rendah kalori adalah opsi terbaik agar komposisi lebih terkontrol. Namun jika harus membeli di luar, kontrol diri menjadi kunci utama," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kue kering dengan isian krim atau lapisan cokelat cenderung lebih cepat rusak. Oleh karena itu, penyimpanan di tempat sejuk atau di dalam lemari es dapat membantu menjaga kualitasnya hingga masa konsumsi berakhir.


Tinggalkan Komentar