telusur.co.id - Yayasan Talibuana Nusantara kembali menggelar Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka menyambut pelaksanaan Muktamar NU ke-35 pada Kamis (18/6/2026), di Kantor Yayasan Talibuana Nusantara, Komplek Ligamas Blok G/20, Jakarta Selatan.
Mengusung tema "NU Masa Depan & Masa Depan NU : Realisasi Merawat Jagat, Membangun Peradaban", Sesi ke-4 ini dihadiri oleh sejumlah tokoh diantaranya; Ketua Yayasan Talibuana Nusantara Endin AJ. Soefihara, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masykuri Abdillah, Ketua Umum PP IPNU 1988-1996 Zainut Tauhid Sa’adi, Tokoh NU asal Sulawesi Selatan Andi Jamaro Dulung, Anggota DPR RI Periode 2019-2024 Andi Najmi Fuadi, Staf khusus Wakil Presiden RI 2019-2024 Masduki Baidlowi, Anggota DPR RI Periode 1997-2024 Mujib Rohmat, Mayjen Fulad, Ketua PWNU DKI Jakarta Samsul Ma'arif, Ketua PWNU Sulawesi Utara Ulyas Taha, Wakil Ketua PWNU Jawa Barat Kurnia Permana Kusuma, Ketua Umum PB PMII 2005-2007 Hery Haryanto Azumi serta sejumlah tokoh NU lainnya.
"Sebagai penyamaan persepsi diskusi ini menjadi sangat penting, namun lebih jauh dari itu komitmen kita untuk melakukan perbaikan harus betul-betul dibumikan," ujar Ketua Yayasan Tali Buana Nusantara Endin AJ. Soefihara.
Di forum yang sama, Kader Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini menjabat sebagai Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Muhammad Nur Hayid itu menekankan agar NU tak lagi hanya konsen melahirkan ide dan gagasan semata, sebab saat ini ide dan gagasan dapat dijawab secara komprehensif oleh algoritma Artificial Intelligence (AI) jika dimanfaatkan dengan baik. Namun lebih jauh NU benar-benar harus menyiapkan diri untuk berpartisipasi secara aktif dalam konteks transformasi sosial maupun transformasi geopolitik.
"Saya mendengar di 2030 ada desain besar Stateless. Tidak ada lagi quote unquote negara karena kebijakan apapun nanti akan dikontrol secara global baik health policy, keputusan tentang kesehatan nanti WHO yang menentukan. Ketika ada negara yang menolak langsung nanti akan kena sanksi misalnya," ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pria yang akrab disapa Gus Hayid tersebut menilai NU membutuhkan figur pemimpin yang berkarakter kepemimpinan yang kuat serta sosok yang mampu mengesampingkan kepentingan pribadi.
"Kalau masih ada kepentingan pribadi artinya problem internalnya gak selesai, saya kira problem konfliktual di NU akan terus berlanjut," lanjutnya.
Ia pun mendorong agar para Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang yang memiliki mandat untuk memilih pemimpin baru di Muktamar NU yang akan datang segera mencari terobosan guna menentukan kedaulatan NU, apakah berada di tangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), atau di tangan mereka sebagai pemilik suara yang sah.
"Ini kan menjadi tantangan betul apakah Kedaulatan Nahdlatul Ulama ke depan melalui tangannya PBNU akan kita serahkan Kepada beliau-beliau, atau mau dibikin ikhtiar lahir dan batin pokoknya yang menentukan adalah seluruh pengurus wilayah dan pengurus cabang yang memiliki mandat hari ini untuk melakukan perubahan secara signifikan," tegasnya.
Selain itu, Hayid berharap Muktamar sebagai forum musyawarah tertinggi NU ke-35 nanti menjadi momentum transformasi NU untuk menyiapkan berbagai langkah strategis guna menghadapi perkembangan yang luar biasa cepat, baik luar maupun dalam negeri seperti penguatan kesejahteraan pada basis warga NU di akar rumput yang mayoritas pekerjaannya berkutat di wilayah agraris sebagai petani, nelayan dan lainnya.
"Maka saya kira isu-isu itu di muktamar nanti juga tidak kalah pentingnya untuk dibahas dan dicarikan rekomendasi solusinya daripada sekedar kita menentukan siapa calon ketua umum ke depan apalagi dengan bayang-bayang ini akan didukung oleh si A dan si B dan seterusnya," pungkasnya.



