telusur.co.id - Sebuah lembaga penilitian Israel merilis hasil jajak pendapat terkait keinginan warga negara rezim Zionis itu. Hasil jajak pendapat tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi yang buruk, dan keputusasaan orang-orang Israel atas penyelesaian konflik dengan warga Palestina, mendorong mereka berpikir untuk eksodus dari Palestina pendudukan (Israel).
Situs surat kabar Rai Al Youm, Selasa (1/2/2022) menulis, hasil penelitian yang dilakukan oleh Menachem Begin Heritage Center menunjukkan, 59 persen pemukim Zionis mendatangi Kedutaan Besar negara-negara dunia untuk keluar dari wilayah pendudukan atau berpikir untuk mendatangani Kedubes-Kedubes itu.
Jurnalis surat kabar Maariv bernama Kalman Liebskind menulis, saat ini Israel sedang berhadapan dengan sebuah fenomena kiri di negeri itu, yang jauh dari Zionisme dan Israel, dan memiliki perhatian minim terhadap Israel.
"Kelompok orang-orang Israel ini memimpin sendiri program untuk melawan proyek Zionisme, dan menuntut peninjauan ulang atas peristiwa Nakba (bencana pendudukan Palestina), negara Palestina, dan realitas perbatasan pendudukan tahun 1948 dan 1967," tambahnya.
Menurut Kalman Liebskind, sebagian besar aktivis ini merupakan anggota organisasi-organisasi sosial Israel, dan menerima bantuan dana dari negara-negara dunia, serta hanya menjelek-jelekan militer serta tentara Israel.
Di antara faktor yang mendorong pemukim Zionis berpikir untuk meninggalkan wilayah pendudukan adalah sifat haus perang rezim Zionis di kawasan, janji-janji palsu kepada orang-orang Yahudi, dan kekalahan beruntun dari kelompok perlawanan Palestina. [Tp]
Survei: 59 Persen Pemukim Zionis Ingin Tinggalkan Israel

Pemukim zionis. (Parstoday).