Oleh: Dr. Ir. H. Tengku Erry Nuradi, M.Si
Bagi saya, Soekirman tidak saja pernah menjadi mitra kerja, akan tetapi juga seorang sahabat yang humble dan menyenangkan. Momentum penting awal bagi kami adalah saat berjuang bersama dalam mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung di Serdang Bedagai (Sergai). Itu terjadi di tahun 2005 saat pilkada langsung pertama kali di gelar di kabupaten pemekaran dari Deli Serdang ini.
Tuhan telah mempertemukan kami dalam satu kapal perjuangan yang ikut dalam kontestasi pilkada di Sergai. Pada saat itu, politik bagi saya adalah bagaimana memenangkan pilkada dan bisa menjadi kepala daerah untuk mengabdi dan membangun kampung halaman leluhur.
Saat itu, saya melihat seorang Soekirman adalah sosok tokoh yang rendah hati, sederhana, dekat dengan masyarakat, intelektual yang mengakar ke bawah, dan memiliki pengalaman yang panjang sebagai aktivis NGO. Sekalipun ia seorang akademisi di Fakultas Pertanian USU, akan tetapi Ia lebih populer sebagai seorang aktivis NGO. Tidak sedikit desa-desa di Sergai yang telah Ia dampingi melalui program pemberdayaan masyarakat pedesaan.
Saya tau bahwa Soekirman adalah sosok yang pintar dan multi talenta. Perjalanannya cukup panjang ke berbagai negara di dunia hanya untuk belajar dan memperluas jaringan aktivisnya. Tapi ia bukanlah sosok yang sok pintar atau suka menggurui orang lain. Ia bukan pribadi yang individualis dan egosentris, malah sangat mudah diajak untuk kerjasama.
Tentu saja dalam mengikuti kontestasi pilkada membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biasanya pembiayaannya ini ditanggulangi secara gotong-royong antara calon Bupati dengan calon wakilnya. Saat itu, beberapa nama calon wakil Bupati telah diseleksi oleh Tim sukses saya. Bahkan beberapa nama calon itu popularitasnya cukup bagus, begitu juga dengan logistiknya. Tapi bagi saya, berpolitik itu tidak melulu soal uang atau logistik saja.
Dalam perjalanan hidup saya, pilihan sikap dan politik selalu dipengaruhi oleh apa kata hati. Logika saja tidak cukup. Oleh karenanya, saya memilih Soekirman sebagai calon wakil saya pada saat itu bukan karena uang atau logistiknya. Beliau juga tidak saya bebankan untuk menyediakan uang dalam jumlah tertentu dalam rangka memperbanyak logistik untuk pertempuran dalam pilkada. Berapa yang ada, itulah yang digunakan untuk pembiayaan kontestasi pilkada.
Pilihan kata hati saya memang tepat. Di tahun 2005, kami berhasil menjadi pasangan pemenang pilkada pertama kali di Sergai. Kami pun dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati untuk periode 2005-2010. Perjalanan kami memimpin kabupaten berjuluk Tanah Bertuah Negeri beradat ini pun tetap kompak. Tidak ada konflik-konflik diantara kami yang membuat kami pecah. Bagi saya pak Soekirman dapat menempatkan dirinya dan menjalankan tugasnya sesuai dengan tupoksi dan wewenangnya.
Pada masa itu, pasangan kami dianggap langka, karena sedikit sekali pasangan bupati dengan wakilnya bisa langgeng hingga satu periode saja. Banyak kasus baru beberapa bulan menjabat sudah terjadi perpecahan antara Bupati dengan Wabupnya.
Setelah menyelesaikan masa bakti 2005-2010, kamipun kembali berpasangan untuk mengikuti pilkada tahun 2010. Kamipun kembali memenangkan kontestasi pilkada itu. Untuk yang kedua kali kami dilantik menjadi bupati dan Wakil bupati untuk periode 2010-2015.
Perjalanan kami di periode kedua ini juga masih tetap solid dan kompak. Namun momentum Pemilihan Gubernur Sumut (pilgubsu) tahun 2013 membuat kami harus berpisah. Saya mengikuti kontetasi pilgubsu berpasangan dengan Gatot Pujonugroho. Dan Soekirman juga dipinang oleh Gus Irawan Pasaribu menjadi pendampingnya untuk ikut kontestasi pilgubsu juga. Pada momentum pilgubsu inilah posisi kami saling bersaing dan berhadap-hadapan. Sekalipun kami bersaing dan bermusuhan dalam pilgubsu, namun secara personal kami tetap bersahabat.
Kamipun memenangkan pilgubsu tahun 2013 itu. Dan saya menduduki jabatan baru sebagai Wakil gubernur. Sekalipun Soekirman kalah dalam pilgubsu, akan tetapi Ia dilantik menjadi Bupati di Sergai menggantikan jabatan yang saya tinggalkan. Mujur betul nasib Soekirman, Kalau menang dapat, dan kalau kalah pun dapat.
Selama 7,2 tahun, Soekirman telah menjadi partner atau mitra saya sebagai Wakil Bupati. Sebagaimana menurut peraturan dan perundangan yang ada, bahwa Wakil Bupati dinyatakan sebagai pembantunya Bupati. Tugas dan perannya adalah membantu tugas-tugas seorang Bupati.
Menurut saya, Soekirman telah bekerja dan berperan sesuai dengan tupoksi sebagaimana Wakil Bupati. Sepanjang pengalaman saya sebagai Bupati, belum pernah Soekirman melakukan sesuatu hal diluar koridor kekuasaan atau wewenangnya. Soekirman sungguh menjadi mitra kerja yang menyenangkan. Suka dengan humor dan berkelakar, dan bisa menempatkan dirinya sesuai dengan porsinya.
Menurut saya, ada beberapa faktor kenapa Soekirman bisa menjadi Wakil Bupati yang tetap memegang teguh sebagaimana amanah tupoksinya:
Pertama, seingat saya, Soekirman tidak pernah mengerjakan tugas-tugas melampaui wewenang sesuai jabatannya. Apa yang Ia lakukan selalu dalam koridor printah dan koordinasi dengan saya. Tidak pernah mendahului atasannya. Meminjam pepatah Minang, Tinggikan seranting, dulukan selangkah untuk orang yang dihormati. Dalam berbagai moment dan event kegiatan, Ia selalu bisa menempatkan diri, dan tetap selalu mendahulukan orang yang lebih dihormatinya.
Kedua, selalu saja tetap rendah hati dan tidak merasa lebih pintar. Walaupun sebenarnya Ia lebih paham, namun dalam memberikan pendapat tidak terkesan menggurui. Istilah pepatah Melayu kuno, Tajam jangan melukai, cepat jangan mendahului, pintar jangan menggurui. Sepertinya pepatah melayu ini tetap Ia pegang teguh selama ia menjadi mitra saya sebagai wakil bupati.
Ketiga, saya meyakini pasti dari sahabatnya atau tim suksesnya, atau dari pihak lain, pernah memprovokasi soekirman untuk menentang sikap dan kebijakan saya kala itu. Terlebih misalnya terkait dengan proyek-proyek. Tetapi soekirman sama sekali tidak mudah terprovokasi. Ia selalu mengamalkan prinsip dalam mencari rezeki, Jangan pernah menghitung kekeyaan orang lain.
Atau dalam keyakinan orang Tionghoa, ada istilah uang berkaki delapan. Kalau lah memang sudah rezeki kita, kemanapun kita lari, rezeki (uang) itu akan kita peroleh, dan jika memang bukan rezeki kita, kemanapun kita kejar tidak akan pernah kita peroleh.
Keempat, pernah pada satu perbincangan dengan sesama kolega, terkait dengan bagaimana kami bisa tetap langgeng sebagai pasangan bupati dan wakil bupati, saya teringat dengan apa yang pernah dismapaikan oleh soekirman. Katanya, sebelum Ia menjadi wakil bupati, Ia sempat mendapat nasehat dari tokoh senior yang pernah menjadi bupati di Tapanuli Tengah, Panusunan Pasaribu. Ada 3 jenis pekerjaan yang membuat kita mudah dilupakan orang. Ketiga pekerjaan itu adalah pertama, tentara; kedua anak buah kapal; dan ketiga, wakil presiden.
Orang yang menjadi wakil presiden biasanya gak banyak dikenal orang, sama halnya menjadi wakil bupati. Jangan berharap menjadi seorang wakil bupati akan terkenal, apalagi melebihi orang yang di depan kita, ungkap Panusunan Pasaribu.
Kelima, Soekirman orang yang penyabar, tidak terlalu ambisius, dan tidak terlalu ngoyo. Mungkin karena ia seorang Jawa. Soekirman lebih banyak nerimo dan ikhlas menerima apa yang telah menjadi haknya, dan tidak mau menuntut banyak.
Itulah soekirman yang saya kenal. Sekalipun kami tidak bekerja dalam satu kemitraan lagi, tapi hubungan silaturahmi dan komunikasi kami masih tetap terjaga. Walaupun Ia masih menjadi Bupati, Ia masih tetap hormat dan menghargai saya sebagai mantan pasangan politiknya.
Saya pun belajar banyak hal dari seorang Soekirman. Saya banyak belajar tentang kerendahan hatinya, kesabarannya, keikhlasannya, kesantunannya, jiwa merakyatnya, intelektualnya, dan humorisnya.



