telusur.co.id - Rangkaian turnamen bulutangkis Eropa 2026 belum berpihak pada Indonesia. Empat ajang bergengsi German Open, All England, Swiss Open, dan Orleans Masters berakhir tanpa satu pun gelar juara bagi Merah Putih.
Namun di balik hasil tersebut, PBSI melihat sinyal positif. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi, Eng Hian, menilai daya saing atlet Indonesia justru menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.
“Secara hasil memang belum sesuai harapan, tetapi dari sisi performa dan progres, kami melihat ada peningkatan. Daya saing pemain terlihat, terutama saat menghadapi pemain top dunia,” ujarnya.
Sepanjang tur, sejumlah wakil Indonesia mampu menembus babak-babak akhir dan memberi perlawanan sengit. Hal ini menjadi indikasi bahwa jarak dengan para pemain elite dunia semakin menipis.
Menurut Eng Hian, pengalaman bertanding di level tinggi menjadi modal penting, khususnya bagi para pemain muda, dalam membangun kematangan teknik dan mental bertanding.
“Yang harus ditingkatkan adalah konsistensi di momen krusial. Itu yang sering jadi pembeda antara menang dan kalah,” tambahnya.
Sorotan datang dari sektor tunggal putra. Kepala Pelatih Tunggal Putra, Indra Wijaya, menilai penampilan Alwi Farhan sangat menjanjikan. Ia sukses mencapai perempat final All England dan menjadi runner-up di Swiss Open.
Salah satu momen penting adalah saat Alwi menumbangkan unggulan pertama asal China, Li Shifeng, di semifinal Swiss Open.
“Di semifinal dia tampil luar biasa, tapi di final performanya menurun. Salah satu faktor utamanya adalah recovery yang kurang maksimal,” jelas Indra.
Ia menegaskan bahwa ke depan Alwi masih perlu meningkatkan aspek fisik, kontrol emosi, dan kemampuan membaca permainan lawan agar lebih konsisten di level tertinggi.
Dari sektor tunggal putri, pelatih Imam Tohari juga melihat progres positif, meski menyoroti masalah konsistensi sebagai pekerjaan rumah utama.
“Di final Swiss Open, performa belum maksimal. Faktor mental dan kontrol pikiran sangat berpengaruh, apalagi di partai puncak tekanannya berbeda,” ujarnya.
Sementara itu, dari sektor ganda putra, pelatih Antonius Budi Ariantho menilai debut pasangan Raymond/Joaquin di All England cukup menjanjikan.
Namun, ia menggarisbawahi perlunya peningkatan pada aspek non-teknis seperti komunikasi, fokus, dan analisis permainan lawan, serta penguatan sektor pertahanan.
“Ke depan, pembenahan akan difokuskan agar permainan lebih solid dan kompetitif,” katanya.
Selain teknik, faktor fisik, mental, dan recovery menjadi perhatian utama mengingat padatnya kalender turnamen 2026.
Meski belum membuahkan gelar, hasil di tur Eropa ini dinilai sebagai pijakan penting untuk langkah selanjutnya.
“Ini bagian dari proses. Dengan evaluasi yang tepat, kami optimistis hasil yang lebih baik akan datang,” tutup Eng Hian.



