Pesan Natsir kepada Umat: Jawablah Kata dengan Amal - Telusur

Pesan Natsir kepada Umat: Jawablah Kata dengan Amal


Telusur.co.id - Oleh Lukman Hakiem, Peminat Sejarah

SALAH satu kepedulian Mohammad Natsir sejak masa paling awal sampai menghembusan nafasnya yang terakhir, ialah melakukan kaderisasi.

Sejak masih sebagai pelajar _Algemene Midelbare Schoolen_ (AMS, sekarang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas), Natsir telah menerjunkan diri ke dunia perkaderan dengan memberi pelajaran agama Islam kepada para pelajar _Meer Uitgebreid Lager Onderwijs_ (MULO, sekarang Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama).

Menulis Buku

DALAM memberi pelajaran kepada para siswa MULO, Natsir menyiapkan bahan-bahan tertulis berupa buku tentang agama Islam yang ditulis dalam bahasa Belanda.
Mengapa dalam bahasa Belanda? Karena di masa itu, hanya buku berbahasa Belanda yang dihargai dan dibaca. Pada awal 1930-an, oleh "orang sekolahan" bahasa Indonesia masih dianggap bahasa rendahan.

Kesibukannya di dalam mempersiapkan kader-kader umat, tidak berkurang meskipun aktivitas Natsir sebagai pemimpin umat dan bangsa makin meningkat. 

Kumpulan ceramah Natsir di dalam berbagai kegiatan perkaderan, kemudian dikumpulkan oleh aktivis Masyumi dari Jawa Timur, Saleh Umar Bajasut, menjadi buku _Fiqhud Da'wah_.

Dalam berbagai kesempatan, Prof. Ahmad Syafii Maaarif menganjurkan agar generasi muda membaca dan meresapi isi _Fiqhud Da'wah_. Buya Syafii menganggap _Fiqhud Da'wah_ sebagai salah satu buku terbaik Natsir.

Ketika dalam "interogasi" seputar rencana sebuah universitas di Malaysia memberi gelar doktor kehormatan untul M. Natsir, Duta Besar RI untuk Malaysia, Brigjen Soenarso, menyebut Natsir tidak layak mendapat gelar itu, Buya Syafii spontan.membantah pernyataan Dubes dengan mengajukan pertanyaan: "Apakah Anda sudah membaca buku _Fiqhud Da'wah_ karya M. Natsir?'
Mendapat pertanyaan tidak terduga, sang Dubes gelagapan, dan mulutnya langsung terkunci.

Menulis, menuangkan pemikiran dalam tulisan yang runtut, tertib, dan sarat argumen, kemudian menjadi ciri para pemimpin bangsa Indonesia di awal kemerdekaan. 

Seperti halnya Natsir, tokoh-tokoh seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka,  H. Agus Salim, dan Prawoto Mangkusasmito dikenang karena warisan tulisannya yang sangat berharga.

Sudah Lama Kita Dicela

PADA tanggal 17 November 1968, di Masjid Asy-Syarif, Tanah Abang IV, Jakarta, atas prakarsa Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia dan Ikatan Masjid Indonesia, diselenggarakan silaturrahmi muballigh, guru-guru agama Islam, dan   para pengurus masjid se-Jakarta Raya.

Pada kesempatan itu, Natsir mengingatkan, selama ini kita memusatkan _tazkiyatunnafs_ (pembersihan diri) hanya semata-mata kepada shalat tahajjud, shalat berjamaah, memperbanyak dzikir, dan membaca Quran. "Itu bagus. Dan harus kita tingkatkan," kata Natsir. 

Akan tetapi, menurut Natsir, itu belum cukup. "Harus kita teruskan. Harus ditambah dengan mengaktivir (mengaktifkan) masyarakat kita yang di luar masjid ini. Kita sadarkan mereka bahwa seorang Muslim harus meningkatkan mutu jiwa pribadinya sendiri, dan merasakan bahwa dia itu memegang amanah. Dia itu mengurus harta yang diberikan Tuhan kepada mereka."

Berbicara sesudah Ketua Dewan Da'wah Jakarta, M. Yunan Nasution, Natsir mengingatkan bahwa umat Islam sudah lama dicela. Orang-orang Islam itu dianggap cuma pandai ngomong saja, hanya pandai memuji-muji Islam, pandai memuji-muji umat Islam terdahulu tetapi keadaan mereka sekarang morat-marit. Umat Islam hanya pandai membaca pidato, tanpa ada hasilnya sama sekali.

"Yang menyedihkan," kata Natsir, "pemuda-pemuda kita pun terbawa oleh arus pendapat itu. Hilang kepercayaannya kepada Islam untuk mengurus dunia ini."

Para pemuda Islam itu mengatakan, Islam hanya untuk akhirat saja. Untuk dunia, kita cari ideologi yang lain. Mengapa para pemuda Islam berpendapat seperti itu? "Oleh karena tidak nampak olehnya jawab Islam atas pertanyaan hidup di abad kedua puluh ini," kata Natsir 

Inilah Kami

KEPADA para muballigh, guru-guru agama Islam, dan para pengurus masjid; Natsir menekankan: "Kita harus pandai sekarang belajar menjawab kata dengan amal. Kalau kata dijawab dengan kata, tidak akan berkesudahan sampai hari kiamat."

Yang bertambah di tengah jalan ialah kesenian untuk berdebat dari satu mimbar ke mimbar yang lain. "Kita hentikan dulu perdebatan. Kita jawab tuduhan orang dengan amal-ihsan, membina suatu masyarakat Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah _shallallahu 'alaihi wa sallam_."
Natsir meminta supaya kita tunjukkan _Ha Ana dza_ (inilah kami). Tunjukkan diri kita dalam amal perbuatan.


Tinggalkan Komentar