Pasar Perdagangan Komoditas Lobster Jatuh Terperosok Dihantam Badai Covid-19 - Telusur

Pasar Perdagangan Komoditas Lobster Jatuh Terperosok Dihantam Badai Covid-19


Penulis: Rusdianto Samawa, Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI), Menulis dari Tambak Garegat Zona Merah Covid-19 Desa Labuhan Bontong, Kec. Tarano Kab. Sumbawa - NTB.


 


Pasar Perdagangan Komoditas Lobster Jatuh Terperosok Dihantam Badai Covid-19 https://www.detikperistiwa.com/news-206941/pasar-perdagangan-komoditas-lobster-jatuh-terperosok-dihantam-badai-covid-19.html


Badai Covid-19 datang menggulung seluruh komoditas Kelautan dan Perikanan, seperti Udang, Kepiting, Lobster, Ikan, Gurita, Rajungan, dan lainnya. Negara-negara penerima ekspor belum membuka akses secara penuh. Pertimbangkan keamanan dan kapal-kapal Kargo antar negara, pelabuhan sangat sepi. Sejumlah perusahaan Kargo terbesar pun, sedang di istirahatkan alias tutup. Sehingga ekspor impor sepi.

Apalagi, sentimen pelaku pasar sedang kurang bagus akibat obat penyakit virus corona (Covid-19). Dampaknya rupiah kesulitan untuk menguat, stagnan. Tentu, membuat kalangan investor global dan domestik memiliki respon negatif. Situasi ketidakpastian terus berjalan sampai saat IHSG menyentuh level terendah. Aktivitas pergadangan juga mengalami penurunan akibat Covid-19. Data pada 17 April 2020, terdapat penurunan frekuensi transaksi harian sebesar 1,49 persen dibanding akhir tahun 2019 menjadi 462 ribu kali.

Diikuti rata-rata nilai transaksi harian 23,84 persen menjadi Rp 6,94 triliun dan penurunan rata rata volume transaski harian 51,87 persen menjadi 7 miliar. Sementara, kapitalisasi pasar juga turun sebesar 26,11 persen menjadi Rp 5.368 triliun. Kondisi ini terjadi pada bursa saham di berbagai dunia. Seluruh indeks bursa saham global alami penurunan dengan diikuti menurunnya nilai kapitalisasi pasar.

Tentu, tren harga Lobster semua jenis dipasar global saat ini sedang merosot turun tajam. Tentu atas pengaruh Covid-19, indeks saham dan rupiah stagnan. Jelas, berpengaruh pada harga Lobster dipasar domestik Tanah Air yang mengalami kontraksi dan turun hingga level terendah sekitar Rp100 ribu rupiah.

Harapan besar nelayan penangkap benih dan pembudidaya Lobster agar mereka dapat meningkatkan produksi yang didukung pemerintah sehingga harga jual yang tinggi pada masa sebelumnya, tidak jatuh pada level rendah. Tetapi, melihat trend parodi harga ketika disesuaikan hasil produksi pembudidaya yang melimpah, maka bak jauh panggang dari api.

Penyebab turunnya harga karena banyak hal. Tetapi, sebab utamanya: harga BBM masih tinggi, virus corona, saham - saham melemah dan rupiah stagnan, cenderung melemah. Ditambah, di negara tujuan ekspor lobster sedang terjangkit penyakit Menular Covid-19.

Apabila harga terus turun sejalan dengan isu virus corona yang masih mewabah di negara tujuan ekspor, maka tidak menutup kemungkinan para pembudidaya Lobster gulung tikar diseluruh Indonesia. Karena sudah pasti mengalami kerugian besar, ratusan juta. Pemerintah harus memikirkan jalan keluarnya, mengingat Lobster salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Untuk mencegah kerugian, melakukan efektivitas dalam setiap kegiatan produksi, harus hemat penggunaan BBM dan listrik. Lagi pula, permintaan komoditas ekspor Lobster menurun, sedangkan produksi meningkat. Negara tujuan ekspor Lobster terbesar kan Tiongkok, Vietnam, Fhiliphine, Taiwan, Jepang, dan Amerika Serikat. Sementara di negara tersebut sedang mewabah virus corona. Ini yang membuat harga terpuruk, melorot dan sepi.

Dampak dari permintaan yang menurun, pembelian hasil panen keramba Lobster berkurang, cold storage terbatas. Selain itu, belum mendapat kepastian harga Lobster untuk beberapa hari dan minggu ke depan. Pembudidaya menjerit pilu.

Pada 2014, volume ekspor lobster dengan kode HS 0306120 (Rock lobster and other sea crawfish (Palinurus spp, Panulirus spp, Jasus spp) not breeder, live) tercatat sebesar 791,8 ton atau senilai USD10,54 juta. Angka tersebut, turun di 2015 sebanyak 511,72 ton dengan nilai USD4,99 juta. Pada tahun 2016 angka ekspor lobster naik menjadi 1.017,14 ton atau senilai USD11,28 juta.

Berdasarkan laporan Kelautan dan Perikanan Dalam Angka Tahun 2018, Indonesia mengekspor 1,13 juta ton komoditas utama hasil perikanan pada 2018 yaitu rumput laut sebanyak 212.962 ton (18,91 persen), udang sebanyak 197.434 ton (17,53 persen). Kelompok Tuna, Cakalang, Tongkol - Tuna, Skipjack, Little Tuna sebanyak 168.434 ton (14,96 persen). Sementara itu, lobster menyumbang 0,17 persen atau ekspor sebanyak 1.958 ton pada 2018. 

Data FAO (2019) periode 2010-2017 produksi lobster dunia rata-rata tumbuh 2,30 persen per tahun. Produksi lobster dunia tahun 2017 mencapai 322.066 ton, di mana 319.996 ton bersumber dari perikanan tangkap dan 2.070 ton dari perikanan budidaya. Artinya, produksi lobster masih andalkan dari alam (perikanan tangkap), sementara budidaya lobster di dunia sampai saat ini tidak berkembang dengan baik.

Data BPS (2019) nilai ekspor lobster Panulirus periode 2014-2018 rata-rata tumbuh 20,42 persen per tahun pada bulan Januari - Februari 2017, namun demikian kembali naik sampai September 2019. Tren ekspor lobster dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan. Namun, tren penyelundupan lobster juga meningkat.

Pantauan Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI) mencatat puluhan provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, NTT, Bali, Papua, Aceh, Jawa Timur, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Fluktuasi harga sangat bervariasi sepanjang Januari - April tahun 2020. Pada Februari, di Aceh harga Lobster menyentuh Rp 370 ribu per kilogram. Namun, saat ini harga tersebut anjlok turun menjadi Rp 200 ribu per kilogram. Itu jenis Lobster mutiara.

Jatuhnya harga lobster, tentu membuat ekspor menurun dan anjlok. Harga tersebut tidak sesuai dengan pengeluaran operasional, untuk kebutuhan nelayan melaut menangkap lobster. Seluruh Indonesia, anjlok harga lobster sehingga mempengaruhi daya beli dan ekspor menurun. Padahal, Lobster Indonesia primadona dunia, komoditas ekspor unggulan, pemasok kebutuhan pasar luar negeri.

Nelayan dan pembudidaya Lobster juga dihadapkan pada produktivitas hasil panen yang menurun karena terasa sangat berat pada operasional dan permintaan lesuh, sehingga pengepul membeli dengan harga rendah dari nelayan. Pasaran dan permintaan harga ditingkat lokal, misalnya: di Sulawesi Selatan, sangat murah. Sebelum wabah Covid-19 mencapai 300 ribu keatas perkilogram, kini hanya 100 ribu perkilogram.

Rerata daerah produksi Lobster mengalami gonjangan yang sangat kuat. Pasar domestik maupun pasar global sedang anjlok. Jikalau penurunan serentak terjadi, bisa dipastikan karena faktor turunnya permintaan Lobster di luar negeri, khususnya di Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Singapore, Australia, China dan Arab Saudi sangat anjlok. 

Bloomberg (2020) melaporkan bahwa harga lobster di Amerika Serikat mencapai level terendah dalam empat tahun terakhir. Begitu juga, China salah satu tujuan ekspor terbesar. Saat sangat anjlok. Lobster dengan berat sekitar 6,8 kilogram saja, hanya dibanderol seharga sekitar 8.10 USD atau setara Rp118.203. Harga tersebut dilaporkan yang paling rendah, setidaknya sejak tahun 2016 lalu.

Di Australia, harga lobster per ekor turun sebesar Rp150 ribu karena perdagangan internasional ditutup. Karena Covid-19 di beberapa negara tujuan ekspor, membuat puluhan ton lobster masih berada di Cold Storage. Banyak perusahaan dan pengusaha berusaha mencari pasar domestik dan pasar lain untuk menjual lobster.

Kondisi ini sangat dirasakan oleh nelayan dan pembudidaya, kebutuhan untuk menopang ekonomi bertumpu penghasilan dari laut dan budidaya. Hanya bisa pasrah dengan harga yang turun drastis. Seperti: China sebagai pembeli terbesar industri Lobster Australia bernilai $AUD 500 juta, yang membeli 98 persen dari produksi 6.615 ton setiap tahunnya. Biasanya permintaan lobster dari China puncaknya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, sekitar 40-50 ton per hari.

Menurut Matt Rutter, CEO Geraldton Fishermen's Co-operative (GFC) merupakan koperasi yang menguasai 60 persen produksi lobster di Australia dan sejak dua pekan lalu menghentikan pengiriman lobster ke China, karena menurunnya permintaan. Saat ini banyak tangkapan lobster yang berada di pusat penampungan di Australia dan mereka harus menjual produk tersebut dengan harga rendah, termasuk di dalam negeri.

Close up picture of Western Australian Rock Lobsters, sebelum ini China membeli 98 persen produksi lobster dari Australia Barat. Saat ini harga lobster paling mahal kelas A jenis western rock dihargai $AUD 33 (sekitar Rp 330 ribu), padahal sebelum adanya wabah Coronavirus, harganya Rp480 ribu. Di seluruh Australia, ada beberapa ratus ton lobster yang sudah ditangkap namun belum dikirim ke China sebelum pasar ditutup.

Beberapa negara di jazirah Arab, disinyalir mengalami penurunan kebutuhan pasokan lobster. Harga lobster di Jazirah Arab dibawah permintaan sehingga peluangnya sangat kecil. Arab sala satu konsumen lobster. Mereka juga punya visi tidak lagi bergantung minyak. Jikalau ekonomi Arab tidak tumbuh, berapa pun harga jual lobster tetap dilepas.
 
Jepang sebagai negara tujuan ekspor lobster asal Indonesia juga disinyalir tengah melakukan diversifikasi pasar. Hal itu tentu mempengaruhi permintaan lobster dalam negeri sehingga menyebabkan harga anjlok.

Kejatuhan harga lobster belakangan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi nelayan, pembudidaya dan suplayer lobster, karena terjadi anomali. Ditengah produksi lobster lokal anjlok akibat banyaknya serangan penyakit dan cuaca buruk, namun coldstorage justru mengurangi pembelian.

Para pembudidaya Lobster, meski diterpa badai Covid-19 dan harga turun. Sebenarnya, masih bisa mendapatkan keuntungan walau sedikit, hanya cukup untuk menutupi biaya operasional. Terpenting ada jaminan pemerintah memberi kepastian dan jalur distribusi pasar.

Menurunnya harga lobster ini akan berdampak buruk dalam jangka panjang bagi industri perikanan dan panen hasil dari nelayan maupun pembudidaya bila virus corona tidak tertangani dengan baik. Pemerintah harus memperhatikan nasib para nelayan dan pembudidaya akibat dampak Covid-19 yang sangat berpengaruh.[]


Sumber:

Pasar Perdagangan Komoditas Lobster Jatuh Terperosok Dihantam Badai Covid-19 https://www.detikperistiwa.com/news-206941/pasar-perdagangan-komoditas-lobster-jatuh-terperosok-dihantam-badai-covid-19.html

Hat-trik Covid-19: Harga Udang Melorot, Nelayan dan Petambak Menjerit - https://corpsnews.com/2020/04/26/hat-trik-covid-19-harga-udang-melorot-nelayan-dan-petambak-menjerit/

Bebani Negara, Sebaiknya Satgas 115 Dibubarkan, https://strategi.co.id/bebani-negara-sebaiknya-satgas-115-dibubarkan/

Front Nelayan Indonesia Tolak Kebijakan Menteri Susi Soal Lobster, https://www.suara.com/bisnis/2017/07/28/140519/front-nelayan-indonesia-tolak-kebijakan-menteri-susi-soal-lobster

Ayo Pak Presiden, Mandirikan Industri Perikanan Nasional Tanpa Impor Bahan Baku, https://sinarkeadilan.com/ayo-pak-presiden-mandirikan-industri-perikanan-nasional-tanpa-impor-bahan-baku/

KKP Ingin Budidaya Lobster, Nelayan : Itu Berat Sekali, https://xnews.id/2020/02/17/kanal/ekonomi/kkp-ingin-budidaya-lobster-nelayan-itu-berat-sekali/

Nelayan: Pemerintah Perlu Kembangkan Budi Daya Lobster | Republika Online Mobile - https://republika.co.id/berita/q2nqhp370/nelayan-pemerintah-perlu-kembangkan-budi-daya-lobste

Pasar Perdagangan Komoditas Lobster Jatuh Terperosok Dihantam Badai Covid-19

Penulis: Rusdianto Samawa, Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI), Menulis dari Tambak Garegat Zona Merah Covid-19 Desa Labuhan Bontong, Kec. Tarano Kab. Sumbawa - NTB.


______


Pasar Perdagangan Komoditas Lobster Jatuh Terperosok Dihantam Badai Covid-19 https://www.detikperistiwa.com/news-206941/pasar-perdagangan-komoditas-lobster-jatuh-terperosok-dihantam-badai-covid-19.html


Badai Covid-19 datang menggulung seluruh komoditas Kelautan dan Perikanan, seperti Udang, Kepiting, Lobster, Ikan, Gurita, Rajungan, dan lainnya. Negara-negara penerima ekspor belum membuka akses secara penuh. Pertimbangkan keamanan dan kapal-kapal Kargo antar negara, pelabuhan sangat sepi. Sejumlah perusahaan Kargo terbesar pun, sedang di istirahatkan alias tutup. Sehingga ekspor impor sepi.

Apalagi, sentimen pelaku pasar sedang kurang bagus akibat obat penyakit virus corona (Covid-19). Dampaknya rupiah kesulitan untuk menguat, stagnan. Tentu, membuat kalangan investor global dan domestik memiliki respon negatif. Situasi ketidakpastian terus berjalan sampai saat IHSG menyentuh level terendah. Aktivitas pergadangan juga mengalami penurunan akibat Covid-19. Data pada 17 April 2020, terdapat penurunan frekuensi transaksi harian sebesar 1,49 persen dibanding akhir tahun 2019 menjadi 462 ribu kali.

Diikuti rata-rata nilai transaksi harian 23,84 persen menjadi Rp 6,94 triliun dan penurunan rata rata volume transaski harian 51,87 persen menjadi 7 miliar. Sementara, kapitalisasi pasar juga turun sebesar 26,11 persen menjadi Rp 5.368 triliun. Kondisi ini terjadi pada bursa saham di berbagai dunia. Seluruh indeks bursa saham global alami penurunan dengan diikuti menurunnya nilai kapitalisasi pasar.

Tentu, tren harga Lobster semua jenis dipasar global saat ini sedang merosot turun tajam. Tentu atas pengaruh Covid-19, indeks saham dan rupiah stagnan. Jelas, berpengaruh pada harga Lobster dipasar domestik Tanah Air yang mengalami kontraksi dan turun hingga level terendah sekitar Rp100 ribu rupiah.

Harapan besar nelayan penangkap benih dan pembudidaya Lobster agar mereka dapat meningkatkan produksi yang didukung pemerintah sehingga harga jual yang tinggi pada masa sebelumnya, tidak jatuh pada level rendah. Tetapi, melihat trend parodi harga ketika disesuaikan hasil produksi pembudidaya yang melimpah, maka bak jauh panggang dari api.

Penyebab turunnya harga karena banyak hal. Tetapi, sebab utamanya: harga BBM masih tinggi, virus corona, saham - saham melemah dan rupiah stagnan, cenderung melemah. Ditambah, di negara tujuan ekspor lobster sedang terjangkit penyakit Menular Covid-19.

Apabila harga terus turun sejalan dengan isu virus corona yang masih mewabah di negara tujuan ekspor, maka tidak menutup kemungkinan para pembudidaya Lobster gulung tikar diseluruh Indonesia. Karena sudah pasti mengalami kerugian besar, ratusan juta. Pemerintah harus memikirkan jalan keluarnya, mengingat Lobster salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Untuk mencegah kerugian, melakukan efektivitas dalam setiap kegiatan produksi, harus hemat penggunaan BBM dan listrik. Lagi pula, permintaan komoditas ekspor Lobster menurun, sedangkan produksi meningkat. Negara tujuan ekspor Lobster terbesar kan Tiongkok, Vietnam, Fhiliphine, Taiwan, Jepang, dan Amerika Serikat. Sementara di negara tersebut sedang mewabah virus corona. Ini yang membuat harga terpuruk, melorot dan sepi.

Dampak dari permintaan yang menurun, pembelian hasil panen keramba Lobster berkurang, cold storage terbatas. Selain itu, belum mendapat kepastian harga Lobster untuk beberapa hari dan minggu ke depan. Pembudidaya menjerit pilu.

Pada 2014, volume ekspor lobster dengan kode HS 0306120 (Rock lobster and other sea crawfish (Palinurus spp, Panulirus spp, Jasus spp) not breeder, live) tercatat sebesar 791,8 ton atau senilai USD10,54 juta. Angka tersebut, turun di 2015 sebanyak 511,72 ton dengan nilai USD4,99 juta. Pada tahun 2016 angka ekspor lobster naik menjadi 1.017,14 ton atau senilai USD11,28 juta.

Berdasarkan laporan Kelautan dan Perikanan Dalam Angka Tahun 2018, Indonesia mengekspor 1,13 juta ton komoditas utama hasil perikanan pada 2018 yaitu rumput laut sebanyak 212.962 ton (18,91 persen), udang sebanyak 197.434 ton (17,53 persen). Kelompok Tuna, Cakalang, Tongkol - Tuna, Skipjack, Little Tuna sebanyak 168.434 ton (14,96 persen). Sementara itu, lobster menyumbang 0,17 persen atau ekspor sebanyak 1.958 ton pada 2018. 

Data FAO (2019) periode 2010-2017 produksi lobster dunia rata-rata tumbuh 2,30 persen per tahun. Produksi lobster dunia tahun 2017 mencapai 322.066 ton, di mana 319.996 ton bersumber dari perikanan tangkap dan 2.070 ton dari perikanan budidaya. Artinya, produksi lobster masih andalkan dari alam (perikanan tangkap), sementara budidaya lobster di dunia sampai saat ini tidak berkembang dengan baik.

Data BPS (2019) nilai ekspor lobster Panulirus periode 2014-2018 rata-rata tumbuh 20,42 persen per tahun pada bulan Januari - Februari 2017, namun demikian kembali naik sampai September 2019. Tren ekspor lobster dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan. Namun, tren penyelundupan lobster juga meningkat.

Pantauan Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI) mencatat puluhan provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, NTT, Bali, Papua, Aceh, Jawa Timur, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Fluktuasi harga sangat bervariasi sepanjang Januari - April tahun 2020. Pada Februari, di Aceh harga Lobster menyentuh Rp 370 ribu per kilogram. Namun, saat ini harga tersebut anjlok turun menjadi Rp 200 ribu per kilogram. Itu jenis Lobster mutiara.

Jatuhnya harga lobster, tentu membuat ekspor menurun dan anjlok. Harga tersebut tidak sesuai dengan pengeluaran operasional, untuk kebutuhan nelayan melaut menangkap lobster. Seluruh Indonesia, anjlok harga lobster sehingga mempengaruhi daya beli dan ekspor menurun. Padahal, Lobster Indonesia primadona dunia, komoditas ekspor unggulan, pemasok kebutuhan pasar luar negeri.

Nelayan dan pembudidaya Lobster juga dihadapkan pada produktivitas hasil panen yang menurun karena terasa sangat berat pada operasional dan permintaan lesuh, sehingga pengepul membeli dengan harga rendah dari nelayan. Pasaran dan permintaan harga ditingkat lokal, misalnya: di Sulawesi Selatan, sangat murah. Sebelum wabah Covid-19 mencapai 300 ribu keatas perkilogram, kini hanya 100 ribu perkilogram.

Rerata daerah produksi Lobster mengalami gonjangan yang sangat kuat. Pasar domestik maupun pasar global sedang anjlok. Jikalau penurunan serentak terjadi, bisa dipastikan karena faktor turunnya permintaan Lobster di luar negeri, khususnya di Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Singapore, Australia, China dan Arab Saudi sangat anjlok. 

Bloomberg (2020) melaporkan bahwa harga lobster di Amerika Serikat mencapai level terendah dalam empat tahun terakhir. Begitu juga, China salah satu tujuan ekspor terbesar. Saat sangat anjlok. Lobster dengan berat sekitar 6,8 kilogram saja, hanya dibanderol seharga sekitar 8.10 USD atau setara Rp118.203. Harga tersebut dilaporkan yang paling rendah, setidaknya sejak tahun 2016 lalu.

Di Australia, harga lobster per ekor turun sebesar Rp150 ribu karena perdagangan internasional ditutup. Karena Covid-19 di beberapa negara tujuan ekspor, membuat puluhan ton lobster masih berada di Cold Storage. Banyak perusahaan dan pengusaha berusaha mencari pasar domestik dan pasar lain untuk menjual lobster.

Kondisi ini sangat dirasakan oleh nelayan dan pembudidaya, kebutuhan untuk menopang ekonomi bertumpu penghasilan dari laut dan budidaya. Hanya bisa pasrah dengan harga yang turun drastis. Seperti: China sebagai pembeli terbesar industri Lobster Australia bernilai $AUD 500 juta, yang membeli 98 persen dari produksi 6.615 ton setiap tahunnya. Biasanya permintaan lobster dari China puncaknya menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, sekitar 40-50 ton per hari.

Menurut Matt Rutter, CEO Geraldton Fishermen's Co-operative (GFC) merupakan koperasi yang menguasai 60 persen produksi lobster di Australia dan sejak dua pekan lalu menghentikan pengiriman lobster ke China, karena menurunnya permintaan. Saat ini banyak tangkapan lobster yang berada di pusat penampungan di Australia dan mereka harus menjual produk tersebut dengan harga rendah, termasuk di dalam negeri.

Close up picture of Western Australian Rock Lobsters, sebelum ini China membeli 98 persen produksi lobster dari Australia Barat. Saat ini harga lobster paling mahal kelas A jenis western rock dihargai $AUD 33 (sekitar Rp 330 ribu), padahal sebelum adanya wabah Coronavirus, harganya Rp480 ribu. Di seluruh Australia, ada beberapa ratus ton lobster yang sudah ditangkap namun belum dikirim ke China sebelum pasar ditutup.

Beberapa negara di jazirah Arab, disinyalir mengalami penurunan kebutuhan pasokan lobster. Harga lobster di Jazirah Arab dibawah permintaan sehingga peluangnya sangat kecil. Arab sala satu konsumen lobster. Mereka juga punya visi tidak lagi bergantung minyak. Jikalau ekonomi Arab tidak tumbuh, berapa pun harga jual lobster tetap dilepas.
 
Jepang sebagai negara tujuan ekspor lobster asal Indonesia juga disinyalir tengah melakukan diversifikasi pasar. Hal itu tentu mempengaruhi permintaan lobster dalam negeri sehingga menyebabkan harga anjlok.

Kejatuhan harga lobster belakangan ini menimbulkan tanda tanya besar bagi nelayan, pembudidaya dan suplayer lobster, karena terjadi anomali. Ditengah produksi lobster lokal anjlok akibat banyaknya serangan penyakit dan cuaca buruk, namun coldstorage justru mengurangi pembelian.

Para pembudidaya Lobster, meski diterpa badai Covid-19 dan harga turun. Sebenarnya, masih bisa mendapatkan keuntungan walau sedikit, hanya cukup untuk menutupi biaya operasional. Terpenting ada jaminan pemerintah memberi kepastian dan jalur distribusi pasar.

Menurunnya harga lobster ini akan berdampak buruk dalam jangka panjang bagi industri perikanan dan panen hasil dari nelayan maupun pembudidaya bila virus corona tidak tertangani dengan baik. Pemerintah harus memperhatikan nasib para nelayan dan pembudidaya akibat dampak Covid-19 yang sangat berpengaruh.[]


Sumber:

Pasar Perdagangan Komoditas Lobster Jatuh Terperosok Dihantam Badai Covid-19 https://www.detikperistiwa.com/news-206941/pasar-perdagangan-komoditas-lobster-jatuh-terperosok-dihantam-badai-covid-19.html

Hat-trik Covid-19: Harga Udang Melorot, Nelayan dan Petambak Menjerit - https://corpsnews.com/2020/04/26/hat-trik-covid-19-harga-udang-melorot-nelayan-dan-petambak-menjerit/

Bebani Negara, Sebaiknya Satgas 115 Dibubarkan, https://strategi.co.id/bebani-negara-sebaiknya-satgas-115-dibubarkan/

Front Nelayan Indonesia Tolak Kebijakan Menteri Susi Soal Lobster, https://www.suara.com/bisnis/2017/07/28/140519/front-nelayan-indonesia-tolak-kebijakan-menteri-susi-soal-lobster

Ayo Pak Presiden, Mandirikan Industri Perikanan Nasional Tanpa Impor Bahan Baku, https://sinarkeadilan.com/ayo-pak-presiden-mandirikan-industri-perikanan-nasional-tanpa-impor-bahan-baku/

KKP Ingin Budidaya Lobster, Nelayan : Itu Berat Sekali, https://xnews.id/2020/02/17/kanal/ekonomi/kkp-ingin-budidaya-lobster-nelayan-itu-berat-sekali/

Nelayan: Pemerintah Perlu Kembangkan Budi Daya Lobster | Republika Online Mobile - https://republika.co.id/berita/q2nqhp370/nelayan-pemerintah-perlu-kembangkan-budi-daya-lobster


Tinggalkan Komentar