telusur.co.id - Mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengakui kemampuan luar biasa kelompok Hizbullah dalam perang saat ini. Padahal dulu, ia sempat meremehkan Hizbullah ketika terjadinya perang Oktober 2024 dan Juni 2025 lalu.
Banyak yang menganggap, Hizbullah tidak akan melakukan balasan serangan lagi kemudian hari.
"Ada kesenjangan antara tujuan yang dinyatakan dan rencana implementasi, mengingat kegagalan untuk memasukkan pembubaran Hizbullah sebagai tujuan yang jelas dalam rencana militer, berbeda dengan pernyataan yang berbeda dari tingkat politik, mencerminkan masalah strategis," kata Gallant, dikutip dari Al Mayadeen, Minggu (5/5/2026).
Gallant menekankan bahwa kejelasan dan terpusatnya tujuan dari kepemimpinan politik hingga tingkat lapangan sangat penting guna memastikan tindakan yang terkoordinasi dan efektif.
Mengenai kehadiran di lapangan, Gallant mengatakan, setiap langkah harus dikaitkan dengan keamanan penduduk Israel utara, seraya mencatat bahwa sebagian besar roket diluncurkan dari daerah di utara Sungai Litani.
Dia mengaku tidak ingat tentara yang ditugaskan untuk menyeberangi Sungai Litani.
Sementara itu, Mayor Jenderal Giora Eiland, seorang perwira cadangan di tentara pendudukan Israel, juga mengakui bahwa Israel menghadapi dilema perang di dua front antara Iran dan Lebanon.
Hal ini terjadi di tengah berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon, berbarengan dengan agresi Amerika-Israel terhadap Iran, yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur. Sementara balasan Iran terus berlanjut melalui gelombang Operasi "True Promise 4".
Hizbullah juga terus membalas serangan tentara Israel di Lebanon selatan, dan membombardir wilayah utara dan jauh ke dalam wilayah Palestina yang diduduki.[Nug]



