telusur.co.id -Iran mengumumkan bahwa upaya Washington untuk menyelamatkan pilot jet tempur F-15 yang jatuh "telah gagal" setelah operasi terkoordinasi oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Angkatan Darat Iran, pasukan Basij, dan unit penegak hukum.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengatakan, pesawat musuh yang melanggar wilayah udara Iran di Isfahan selatan, termasuk dua helikopter Black Hawk dan sebuah pesawat angkut militer C-130, telah terkena tembakan dan dilaporkan terbakar.
"Presiden Trump telah mengalami kegagalan yang nyata pada hari ke-38," kata Khatam al-Anbiya, menambahkan bahwa klaimnya tentang operasi khusus yang konon menyelamatkan pilot yang jatuh hanyalah upaya untuk "menutupi kekalahan telaknya."
Selain itu, IRGC mengeluarkan pernyataan pada Minggu (5/4/2026), pagi, yang mengungkapkan bahwa sebuah drone canggih MQ-9 juga ditembak jatuh di provinsi tersebut. Sehingga jumlah drone yang hancur total di daerah itu dalam lima hari terakhir saja menjadi empat drone.
Iran juga mengkonfirmasi bahwa pertahanan udaranya menembak jatuh sebuah drone Hermes 900 milik pasukan AS-Israel di atas Isfahan. Hal ini menambah jumlah total drone musuh yang ditembak jatuh sejak awal agresi menjadi 162 unit.
Selain itu, sebuah pernyataan IRGC merujuk pada Operasi Eagle Claw, di mana AS gagal menyelamatkan puluhan staf kedutaan di Iran pada 24 April 1980 silam.
"Untuk menutupi kekalahannya yang telak, Trump mengklaim dalam sebuah cuitan bahwa ada operasi khusus untuk menyelamatkan pilot pesawat yang jatuh di Iran. Trump si penjudi, dewa pasir Tabas masih ada," bunyi pernyataan itu.
Apa yang diklaim AS?
Para pejabat AS sebelumnya mengatakan kepada Axios bahwa pasukan khusus diduga menyelamatkan kedua pilot dark jet tempur F-15 yang ditembak jatuh di Iran, setelah operasi yang melibatkan konfrontasi dengan Korps Garda Revolusi Islam dan serangan udara.
Pada hari Jumat, sebuah jet tempur F-15 ditembak jatuh di wilayah barat daya Iran . Baik pilot maupun petugas sistem persenjataan berhasil melontarkan diri dan menghubungi pasukan AS melalui sistem komunikasi mereka. Penembakan tersebut, yang digambarkan oleh Axios sebagai "skenario mimpi buruk," memicu misi pencarian dan penyelamatan mendesak, sementara IRGC bergerak untuk menemukan personel yang hilang.
AS mengakui bahwa selama operasi penyelamatan pertama, sebuah helikopter Blackhawk diserang oleh pasukan Iran, yang mengakibatkan beberapa personil terluka. Namun, Washington mengklaim bahwa mereka mampu melaksanakan misinya sesuai rencana.[Nug]



