Hubungan antara Raja Saudi Salman dan putranya, Mohammed bin Salman, semakin tegang karena mereka tidak setuju dengan sejumlah masalah, termasuk perang di Yaman.
“Ketegangan dikatakan memuncak pada kunjungan Raja Salman ke Mesir bulan lalu ketika penasihatnya memperingatkan ada kemungkinan langkah jahat terhadapnya oleh putra mahkota, kata laporan itu,” mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya seperti laporan Guardian yang diterbitkan Selasa.
Mendengar info tersebut, loyalis raja Salman dilaporkan sangat khawatir dengan ancaman ketika perjalanan di Mesir sehingga keamanannya selama perjalanan diperketat dan digantikan oleh tim yang terdiri dari 30 loyalis pilihan. “Penjaga keamanan Mesir juga diberhentikan,” kata sumber itu kepada Guardian.
Tudingan adanya keretakan hubungan antara Raja Salman dan anaknya bertambah kuat ketika pulang ke Arab Saudi. Pangeran Mohammed (juga dikenal sebagai MBS) tidak termasuk di antara para pejabat yang menerima Raja Salman.
Sumber itu mengatakan pasangan itu tidak setuju atas garis keras Raja Salman pada pengunjuk rasa di Aljazair dan Sudan, serta perlakuan terhadap tahanan perang Yaman.
Informasi lebih jauh, MBS melakukan konsolidasi kekuasaan di dalam negeri dengan membersihkan saingan dalam keluarga kerajaan dan menekan aktivisme masyarakat sipil, ia telah mendapatkan ketenaran di luar negeri karena kebijakan luar negerinya yang agresif. (ham)



