Hat-trik Covid-19: Harga Udang Melorot, Nelayan dan Petambak Menjerit - Telusur

Hat-trik Covid-19: Harga Udang Melorot, Nelayan dan Petambak Menjerit


Penulis: Rusdianto Samawa


TAMBAK Garegat, begitu namanya. Tempat dulu saya menggali Tambak bersama kedua orangtua. Tambak Garegat ini peninggalan leluhur. Pemberian nama Garegat masa Panglima Cama' komandan pasukan pengawal Sultanah Siti Aisyah Bontolangkasa, seorang perempuan pertama menjadi Sultanah di Sumbawa. Garegat berbatasan langsung dengan Uma Pampang Unter Belo, wilayah karisedenan Kesultanan Sumbawa.

Garegat sebagai basis pertahanan tentara Kesultanan, tempat ini terdiri dari tanah lapang menjurus ke laut sisi timur. Memanjang ke utara berbatasan langsung dengan Desa Terujung. Dulu Terujung masih dibawah wilayah Desa Labuhan Jambu, Kecamatan Tarano.

Wilayah Garegat juga dipenuhi hutan bakau lebat sisi selatan dan utara. Sekarang hutan bakau itu tidak telihat. Antara Tambak dan laut, tak lagi ada sekat hutan bakau menghalangi. Saking tandusnya. Dulu hutan bakau berisi kepiting soka, kepiting biasa, ikan, tiram, siput, dan lainnya. Sekarang, tak ada lagi harapan kehidupan akan jenis komoditas tersebut, karena tandus. Sebagian menjadi tambak dan sebagian lagi tempat berlabuh kapal atau perahu nelayan kecil.

Wilayah Garegat inilah, tempat tambak menambak, budidaya udang dan bandeng bersama kedua orangtua. Tambak yang awalnya seluas 100-an hektar, kini hanya tersisa beberapa puluh hektar. Tambak Garegat ini warisan dari leluhur, turun temurun sejak kakek sekitar tahun 1920-an.

Kakek saya mendapatkan tanah tambak itu dari warisan sebelumnya. Masih banyak hutan atau kayu-kayu bakau di dalamnya. Saat kakek itulah, mulai dibersihkan hingga generasi kami masih berlangsung: menggali, memperluas, membersihkan hingga memperdalam tambak tersebut.

Saya mencoba bermeditasi - tafakkur dari Tambak Garegat ini, karena sebagian besar hasil dari tambak: udang dan bandeng, kami hidup. Berpeluh-peluh keringat, nasib, cara hidup ditambak ini. Melihat tambak kepemilikan kedua orangtua ini, seolah melihat seluruh petambak, petani garam, pembudidaya dan nelayan seluruh Indonesia.

Betapa tidak? kesimpulan dialog dengan beberapa petambak udang dan bandeng di Garegat, sepertinya tak ada harapan untuk mengangkat derajat mereka. Sebagian petambak dan nelayan disekitar Garegat Labuhan Bontong ini, sejak satu minggu belakangan, memilih tidak melaut akibat hasil tangkapan mereka kurang laku dan harga jual ikan juga semakin anjlok.

Sala satu yang paling dikeluhkan yakni: hat-trik Pandemi Covid-19 yang membuat harga ikan bandeng dan udang jatuh harga kedasar jurang, melorot tanpa tertahan. Walaupun sebagian pengepul banyak yang datang ambil, namun tidak dibayar langsung. Keluhan itu kian terasa dan memberatkan karena dampak pengaruh wabah virus corona atau Covid-19.

Pengaruh lainnya, skema perang nilai tukar rupiah terhadap dolar ditengah pandemi Covid-19: gagal menguat, cenderung stagnan. Walaupun, rupiah sukses menguat tiga pekan beruntun melawan dolar AS. Namun, hari ini rupiah langsung melemah 0,42%, dan semakin membengkak hingga 0,65% di Rp 15.450/US$. Tetapi sekali lagi rupiah menunjukkan kesaktiannya sebelum penutupan perdagangan, akhirnya stagnan di Rp 15.350/US$. Meski stagnan, rupiah tetap menjadi juara Asia, melihat semua mata uang utama melemah melawan dolar AS.

Hat-trik Covid-19 dan Dollar AS inilah, menjadi pemicu harga ikan, udang: Vaname, Kelong, Windu, Lobster dan Kepiting mengalami penurunan. Nelayan saat ini menjerit atas kerugian yang dialami setelah pukulan Covid-19 dan Dollar. Apalagi, tangkapan nelayan tak sebanding dengan harga yang diperoleh dari hasil penjualan, sehingga tak mau rugi, memilih menghentikan sementara aktivitas menambak dan melaut.

Penghentian aktivitas menambak dan melaut juga dipengaruhi sentimen pelaku pasar yang memburuk dan rupiah belum menjamin harga: Vaname, Kelong, Windu, Lobster, Garam dan Kepiting sehingga tak bisa menutup rasa kekecewaan petambak, petani garam, dan nelayan akibat harga anjlok.

Bayangkan, dalam 1 bulan ini, hat-trik Covid-19 berhasil menurunkan hasil tangkapan nelayan Labuhan Borong saat melaut. Biasanya mendapat 15 kilogram hingga 30 kilogram udang kelong setiap boat nelayan dengan harga jual sebelumnya mencapai Rp 130 ribu hingga Rp 140 ribu perkilogram. Namun saat ini harganya sudah menurun hingga Rp 90 ribu per kilogram.

Secara keseluruhan Nusa Tenggara Barat (NTB), pedagang udang menjual udangnya dengan harga rata-rata berdasarkan ukuran, seperti ukuran size 30 menjadi Rp93 ribu, size 40 (Rp84 ribu), size 50 (Rp69 ribu), size 60 (Rp60 ribu), size 70 (Rp57 ribu), size 80 (R-53 ribu), size 90 (Rp 51 ribu) dan size 100 (Rp48 ribu).

Begitu juga, di Simeulue Aceh harga jual udang vaname mengalami penurunan hingga Rp 10.000 per kilogram. Biasanya udang vaname size 50 harganya berkisar Rp 67 ribu - Rp 70 ribu. Kemudian, Kota Tegal harga udang vaname hanya Rp42.000 per kilogram. Normal harga udang Rp53.000 perkilo. Pembudidaya sangat rugi. Modal operasionalnya tak bisa dikembalikan. Sedangkan, di Lampung Selatan Pesisir Timur harga udang vaname pada Februari 2020 anjlok. Dari Rp90 ribu per kilo keatas menjadi Rp57 ribu, turun lagi ke level Rp10 ribu—Rp12 ribu per kilogram.

Begitu pun pada komoditas kepiting diseputar wilayah Kalimantan Utara. Mayoritas kepiting bertelur yang ekspor dengan berat 300 gram. Mengalami penurunan harga Rp5 ribu per kilo. Selain itu, harga ikan juga ikut merosot seperti ikan tongkol berkisar Rp10 ribu - Rp20 ribu perkilogram, rata-rata harga ikan turun 50%, tentu ini sangat berdampak pada daya beli masyarakat sangat rendah dan pengaruh tidak ada expor ikan.

Wilayah Minasari Pangandaran, harga udang berbagai jenis, anjlok. Sebelum virus corona cukup tinggi. Harga udang jenis Tiger tipe B sebelumnya Rp 370 ribu per kilogram, kini turun menjadi Rp300 ribu per kilogram. Udang jenis Jerebung semula Rp210 ribu perkilogram, kini turun jadi Rp195 ribu/kilogram. Begitu pun udang jenis dogol, semula Rp77 ribu perkilogram, sekarang menjadi Rp55 ribu perkilogram.

Itu harga rata-rata. Kalau detailnya tergantung lokasi farm (tambak) yang panen. Masing-masing areal tentu berbeda karena terkait dengan jarak yang harus diperhitungkan komponen biaya transportasi. Harga udang di tingkat lokal ditentukan oleh harga internasional karena udang didominasi oleh pasar ekspor. Ketika buyer mengurangi pembelian, coldstorage juga menahan diri, akibatnya harga udang ditingkat lokal turun.

Beberapa permisalan parodi harga udang dan komoditas lainnya. Tentu mengalami fluktuasi yang cukup dinamis sepanjang tahun 2019 membuat nelayan, petambak dan pembudidaya sangat bergantung trend harga untuk menentukan panen. Anjloknya harga udang dari tahun 2019 hingga 2020 ini disebabkan faktor - faktor inputan kebutuhan, seperti: benur, obat-obatan, peralatan, pakan, harga komoditas lain, Bahan Bakar Minyak, kondisi cuaca serta permintaan pasar domestik maupun mancanegara.

Beratnya logistik, operasional dan harga komoditas: Vaname, Kelong, Windu, Lobster, Garam dan Kepiting tidak seimbang dengan modal yang dikeluarkan oleh nelayan. Ditambah kebutuhan BBM yang sangat vital dalam aktivitas melaut. Apalagi, setiap minggu, para nelayan harus menggantikan alat tangkap jaring yang harganya mencapai Rp250 ribu.

Beban itu tak ada habisnya. Padahal pemerintah mestinya segera menurunkan harga BBM, karena perdagangan harga minyak mentah saja masih bergerak menguat tajam nyaris 20% dan berada dikisaran US$ 16/barel dan minyak jenis Brent naik 4,7% di level US$ 21,33/barel. Selain itu, berpengaruh juga pada ekspor dan lambatnya pembayaran oleh pihak pembeli.

Kondisi seperti ini, nelayan, petambak dan pembudidaya membutuhkan jaminan pasar dari pemerintah. Termasuk harga kebutuhan row material. Karena butuh diyakinkan untuk tetap berproduksi. Apalagi ditambah pemberian insentif. Produksi perikanan tidak bisa berhenti karena masyarakat tetap butuh sumber pangan. Apalagi dalam kondisi saat ini makanan bergizi tinggi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan imunitas.

Semoga Covid-19 segera berakhir, supaya aktivitas nelayan, petambak dan pembudidaya segera bisa kembali melaut. Pemerintah, harus menjamin insentif nelayan, petambak dan pembudidaya yang mengalami kerugian, bukan hanya untuk Jaring Pengaman Sosial (JPS) bagi masyarakat umum. Tetapi lebih khusus ke para pedagang bakulan, ibu rumah tangga nelayan, pekerja industri, hingga petani garam. Mereka juga berhak mendapat hak insentif.[***]

Penulis: Front Nelayan Indonesia (FNI), Menulis dari Tambak Garegat Zona Merah Covid-19 Desa Labuhan Bontong, Kec. Tarano Kab. Sumbawa - NTB.


Tinggalkan Komentar