telusur.co.id - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan putaran keempat terhadap sejumlah target di Iran. Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya mulai melakukan serangan tambahan pada Minggu, (12/7/2026) pukul 17.00 waktu setempat (ET). Operasi tersebut disebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal sipil dan pelayaran komersial internasional.
“Pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangan tambahan terhadap Iran untuk terus melemahkan kemampuannya menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi Selat Hormuz. Panglima Tertinggi telah mengarahkan serangan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran,” kata CENTCOM melalui pernyataan di platform X.
Serangan tersebut dilaporkan memicu sejumlah ledakan di wilayah selatan Iran. Media Iran menyebut ledakan terjadi di beberapa kota pelabuhan seperti Bandar Abbas, Sirik, dan Jask, serta Pulau Qeshm.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam tindakan tersebut dan menyebut serangan Amerika Serikat sebagai "kejahatan perang", menurut laporan Press TV.
Eskalasi terbaru ini semakin memperburuk hubungan kedua negara setelah nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya ditandatangani pada 17 Juni. Sejak kesepakatan itu berlaku, Washington dan Teheran saling menuduh pihak lain melanggar isi perjanjian.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan menyatakan akan tetap menutup Selat Hormuz bagi seluruh aktivitas pelayaran sampai Amerika Serikat menghentikan apa yang mereka sebut sebagai "intervensi ilegal" di kawasan tersebut.
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga mengkritik kesepakatan yang dinilainya berjalan sepihak. Ia memperingatkan Amerika Serikat agar memenuhi komitmen yang telah dibuat atau menghadapi konsekuensi.
Sementara itu, CENTCOM mengklaim pasukan AS telah menyerang lebih dari 300 target militer Iran dalam tiga malam sebelumnya. Sebagai respons, Iran dilaporkan meluncurkan rudal ke lima negara Teluk Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Perselisihan utama kedua negara berpusat pada penafsiran aturan terkait Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia. Sekitar seperempat perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global disebut melewati kawasan tersebut.
Dalam MoU tersebut, Iran menyatakan akan menggunakan "upaya terbaik" untuk memastikan jalur aman bagi kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari serta melakukan pembahasan dengan Oman terkait pengelolaan dan layanan maritim di masa depan.
Namun, Iran tetap mempertahankan klaim bahwa mereka memiliki hak untuk mengatur lalu lintas kapal dan menerapkan aturan tertentu, termasuk kewajiban kapal mengikuti jalur yang telah ditentukan.
Di sisi lain, Amerika Serikat menuntut agar Iran membuka sepenuhnya Selat Hormuz dan membebaskan seluruh aktivitas pelayaran internasional. Langkah AS yang mengarahkan kapal melewati jalur dekat pantai Oman mendapat penolakan keras dari IRGC yang menyebutnya sebagai tindakan ilegal.
Situasi ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi titik panas geopolitik dunia, dengan kekhawatiran konflik lebih luas dapat mengganggu stabilitas keamanan dan pasokan energi global.



