telusur.co.id - Aktivis pemuda, Mohammad Bifa Agusriyanto, mengaku menjadi korban dugaan peretasan akun WhatsApp beberapa saat sebelum tampil sebagai pembicara dalam Simposium Kebangsaan yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMARA), Bogor, Selasa (30/6/2026).
Peristiwa tersebut terjadi menjelang forum diskusi yang mengangkat tema "Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Republik".
Meski demikian, agenda simposium tetap berlangsung sesuai jadwal dengan dihadiri ratusan mahasiswa.
Dalam pemaparannya, Bifa menyinggung dugaan peretasan yang dialaminya. Dia menilai, insiden tersebut merupakan bagian dari tekanan yang kerap dialami kelompok-kelompok yang menyuarakan kritik terhadap kondisi demokrasi di Indonesia.
"Aksi peretasan seperti ini bukan sesuatu yang baru. Namun, kejadian ini menunjukkan bahwa ruang kritik masih menghadapi berbagai bentuk tekanan. Di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap negara, suara-suara kritis justru semakin penting untuk dijaga," ujar dia di hadapan peserta simposium.
Pada kesempatan yang sama, Bifa juga mengulas persoalan yang menurutnya menjadi akar berbagai masalah dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.
Dia berpendapat bahwa pembenahan demokrasi tidak dapat dilepaskan dari reformasi di tubuh partai politik.
Bifa juga bilang, sistem kepartaian saat ini belum mampu menciptakan regenerasi kepemimpinan yang sehat.
Salah satu indikator yang ia soroti adalah dominasi ketua umum partai yang dinilai berlangsung terlalu lama sehingga menghambat sirkulasi kepemimpinan.
"Jika ingin membangun demokrasi yang lebih sehat, pembenahan harus dimulai dari partai politik. Demokrasi negara tidak akan berjalan optimal apabila demokrasi di internal partai masih menghadapi berbagai persoalan," tutur dia.
Di akhir pemaparannya, Bifa mengajak mahasiswa untuk tetap aktif mengawal demokrasi dan tidak surut dalam menyampaikan gagasan maupun kritik secara konstitusional, meski dihadapkan pada berbagai bentuk intimidasi, termasuk di ruang digital.
"Saya tidak akan mundur hanya karena adanya teror. Risiko seperti ini merupakan bagian dari perjuangan dalam menyuarakan kepentingan rakyat dan menjaga demokrasi tetap hidup," ucap dia yang disambut tepuk tangan peserta.
Melalui forum tersebut, Bifa juga menyampaikan kecaman terhadap segala bentuk dugaan teror digital yang menyasar kalangan aktivis maupun kelompok masyarakat kritis.
Mantan Presiden Mahasiswa UHAMKA itu mendorong agar ruang digital tetap menjadi tempat yang aman, terbuka, dan menjamin kebebasan berekspresi sesuai prinsip-prinsip demokrasi.
Laporan: Malik Sihite



