3 Baris Tutur Mu - Telusur

3 Baris Tutur Mu


 

Satu wajah yang terlintas di kala hidup berlalu dalam deru debu di jalan pendidikan 

Satu nama yang terukir di hati siapa saja ,
yang memilih menyematkan kata Pendidik di jiwanya.

Satu sosok yang mengguncang dengan kalimat yang hidup di nurani walau sudah berpuluh tahun  penuturnya tiada, 
Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan atau contoh).
Ing madyo mbangun karso (di tengah memberikan semangat).
Tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan).

Ki Hajar Dewantara, 
Kalau boleh kami mengadu....
Setelah kini kami dewasa, banyak macam suara memekik, meneriakkan dan  menyuruh melakukan ini itu, memandu tindakan dan komentar, suara- suara itu banyak mengambil peran.

Nurani kami tak selalu bersuara sama dengan suruhan dan komentar itu, sehingga bising dengan simfoni tak senada.

Hati kami seringkali memandu tindakan ke arah yang tak sama, namun pemeran itu begitu mengikat.

Maka suaramulah yang membuat kami tersentak bisa merasakan,  berbincang dengan nurani, berdiskusi dengan akal pikiran, sampai sulit untuk membungkam gumamam suaramu itu.

3 baris tuturmu terlanjur bersemayam di dalam pikiran, tak sanggup dan tak ingin kami membuatnya pergi. Bertahun sudah barisan kalimat itu membantu kami untuk terus menjaga bara semangat, kuat berdiri , berjuang melakukan yang terbaik  bagi pendidikan anak- anak di negeri ini.

Ki Hajar Dewantara ... 
Dalam hening malam ,
kami  dengarkan nurani  yang tenang dan damai, tuturmu bergaung menyusup lebih dalam sum sum pikiran kami, mengelus lembut jiwa dan ruh kami,  jiwa yang sadar akan hakikat penciptaan diri ,
lantas memanggil ingatan pada  janji bakti pada ibu pertiwi . 

Wahai Bapak Pendidikan ...
Kami akan terus bersemangat menjaga agar ruh Taman- Taman Siswa  terus hidup di dalam tempat- tempat anak negeri menuntut ilmu.  
Taman ilmu dimana anak didik diajarkan menjaga  ibu pertiwi ini ,berakhlak  dan mandiri,
serta tegas menolak bentuk penjajahan yang bernama mengambil hak orang lain, sifat keserakahan dan perilaku  kesewenang- wenangan.

Ya,  kini kami  terima pusaka mu   itu dan melanjutkan tiga baris tutur mu jadi pemandu penyeru membangun jiwa, yang  menebarkan tugas amanat, mencerdaskan kehidupan bangsa ,abdi bakti.

Kami akan terus berjuang, bergerak hingga sampai ,
menggugah kesadaran pada anak negeri ini, anak -anak bunda pertiwi yang akan memakmurkan bumi.

Azmi Syahputra
Penulis sastra hukum


Tinggalkan Komentar