telusur.co.id - Politisi Gerindra Fadli Zon meminta Presiden Joko Widodo untuk membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF), terkait tewasnya enam laksar FPI yang ditembak polisi. Hal tersebut disampaikan Fadli melalui akun media sosial Twitter miliknya

"P @jokowi, mhn dipertimbangkan aspirasi masyarakat utk dibentuknya TGPF kasus penembakan 6 anggota FPI," cuit Fadli.

Polri sendiri mengklaim telah menggandeng sejumlah pegiat hak asasi manusia dalam mengusut kasus ini. Namun menurut Fadli, TGPF independen mutlak diperlukan agar apa yang terjadi di tol Jakarta-Cikampek tersebut terang benderang.

"TGPF independen adalah jalan tengah agar masyarakat masih percaya bahwa jalan keadilan itu masih ada," katanya.

Sebelumnya, Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengklaim, pihaknya berusaha profesional dan transparan dalam memproses insiden tewasnya enam laskar Front Pembela Islam (FPI). Dalam hal ini, polisi turut menggandeng sejumlah pihak termasuk pegiat hak asasi manusia (HAM).

“Kami selalu berusaha untuk profesional transparan dan objektif dengan selalu melibatkan rekan-rekan dari pengawas eksternal. Dalam hal ini kami mengundang Komnas HAM, Amnesti Internasional, KontraS, Imparsial dan juga Kompolnas,” ujar Listyo di Gedung Bareskrim Polri, Selasa (15/12/20).

Seperti diketahui, Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri, Polda Metro Jaya, dan Polres Karawang menggelar rekonstruksi di empat lokasi, terkait insiden bentrok fisik polisi dengan laskar FPI. Akibat insiden yang terjadi di tol Jakarta-Cikampek ini, enam laskar FPI tewas ditembak.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan, polisi memperagakan 58 adegan rekonstruksi. Rekonstruksi dimulai dari terjadinya bentrok fisik hingga ditembaknya enam laskar FPI.

"Dalam proses rekonstruksi malam ini setidaknya ada 58 adegan rekonstruksi," kata Argo di lokasi rekonstruksi, Senin (14/12/20). [Fhr]