telusur.co.id - Otoritas Taliban Afghanistan menyatakan telah melancarkan serangan terhadap posisi militer Pakistan di sepanjang perbatasan kedua negara sebagai respons atas serangan udara Pakistan pekan lalu. Di sisi lain, Pakistan menegaskan pasukannya telah memberikan balasan keras dan efektif.
Kantor media korps militer Afghanistan di wilayah timur dalam pernyataannya menyebut “bentrokan hebat” pecah pada Kamis malam sebagai tanggapan atas serangan udara Pakistan di Provinsi Nangarhar dan Paktia.
Juru bicara pemerintah Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam unggahan di platform X mengatakan bahwa operasi ofensif skala besar telah diluncurkan terhadap posisi dan instalasi militer Pakistan di sepanjang Garis Durand. Ia menyebut langkah itu sebagai respons atas “provokasi dan pelanggaran berulang” dari pihak militer Pakistan.
Garis Durand, perbatasan sepanjang 2.611 kilometer antara kedua negara, dalam beberapa bulan terakhir sebagian besar ditutup setelah bentrokan mematikan pada Oktober lalu yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua sisi.
Sumber militer Afghanistan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa 10 tentara Pakistan tewas dan 13 pos terdepan direbut dalam serangan Kamis malam. Menurut Taliban, operasi itu merupakan balasan atas serangan Pakistan pada hari Minggu sebelumnya di wilayah perbatasan.
Pakistan sebelumnya mengklaim serangan hari Minggu menewaskan sedikitnya 70 pejuang. Namun Afghanistan membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa korban termasuk warga sipil, di antaranya perempuan dan anak-anak.
Tanggapan Pakistan
Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan menyatakan bahwa pasukannya telah memberikan “tanggapan segera dan efektif” terhadap tembakan Taliban di sejumlah sektor di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, termasuk Chitral, Khyber, Mohmand, Kurram, dan Bajaur.
Juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi, menyatakan di X bahwa tidak ada pos terdepan Pakistan yang direbut atau dirusak. Ia menegaskan bahwa pasukan Pakistan telah “menimbulkan kerugian besar” di sepanjang perbatasan sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai agresi Taliban.
Pada Jumat dini hari, Zaidi mengklaim bahwa 133 anggota Taliban Afghanistan tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka. Ia juga menyebut 27 pos Taliban dihancurkan dan sembilan lainnya direbut. Namun, ia tidak menanggapi klaim Afghanistan mengenai tewasnya 10 tentara Pakistan.
Hingga kini, belum ada komentar langsung dari otoritas Afghanistan terkait klaim terbaru Pakistan tersebut.
Sementara itu, setidaknya satu ledakan keras dilaporkan terjadi di ibu kota Kabul, bersamaan dengan suara pesawat yang terdengar di langit kota.
Meningkatnya Kekerasan di Perbatasan
Ketegangan terbaru dipicu persoalan keamanan. Pakistan menuduh Afghanistan melindungi kelompok bersenjata Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang berbasis di wilayah perbatasan Afghanistan.
TTP, yang muncul pada 2007 di wilayah kesukuan Pakistan, berbeda dari Taliban Afghanistan, tetapi memiliki hubungan ideologis dan historis yang erat.
Analis senior Asia Selatan dari Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), Pearl Pandya, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa perbatasan yang longgar memungkinkan para pejuang mundur ke wilayah aman ketika menghadapi tekanan militer.
Menurutnya, Taliban Afghanistan tampaknya enggan menindak tegas TTP, sebagian karena kedekatan historis kedua kelompok, tetapi juga karena kekhawatiran militan TTP dapat beralih ke saingan utama mereka, Negara Islam Provinsi Khorasan.
Pandya menambahkan bahwa 2025 menjadi salah satu tahun paling penuh kekerasan dalam lebih dari satu dekade, dengan ACLED mencatat lebih dari 1.000 insiden kekerasan yang melibatkan Taliban Pakistan di seluruh negeri. Tren pada 2026 dinilai setara atau sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Eskalasi terbaru ini menandai memburuknya hubungan kedua negara, dengan risiko konflik terbuka yang semakin meningkat di kawasan perbatasan. [ham]



