telusur.co.id - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ulhaq mengungkapkan bahwa desain soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 dibuat untuk mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
Menurut Fajar, seluruh soal TKA berbentuk pilihan ganda, namun disusun secara naratif dan analitis agar siswa tidak hanya mengandalkan hafalan, melainkan juga kemampuan logika dan pemahaman mendalam.
“Model pertanyaan TKA memang didesain untuk mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa,” ujarnya kepada wartawan Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa desain soal TKA mengacu pada standar Programme for International Student Assessment (PISA), yakni survei internasional yang mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa di berbagai negara. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan mampu mengasah kemampuan analitis dalam menjawab soal.
Fajar juga menanggapi pertanyaan siswa terkait bentuk soal yang panjang. Ia menegaskan bahwa model naratif tersebut memang sengaja dirancang untuk menguji logika serta pemahaman konteks, termasuk dalam soal matematika.
Pada jenjang SD, TKA terdiri dari 60 soal yang terbagi menjadi dua mata pelajaran, yakni 30 soal numerasi (matematika) dan 30 soal Bahasa Indonesia. Setiap mata pelajaran dikerjakan dalam waktu 75 menit dan dilaksanakan secara terpisah dalam dua hari.
Pelaksanaan TKA sendiri dilakukan secara daring menggunakan komputer. Melalui metode ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap siswa tidak hanya memiliki kemampuan deskriptif, tetapi juga mampu berpikir kritis dan analitis dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Tujuan akhirnya adalah membiasakan siswa menjawab pertanyaan yang bersifat naratif dan analitis, sehingga kemampuan berpikir mereka semakin terasah,” kata Fajar.



