Telusur.co.id - Penulis: Rusdianto Samawa, Pendiri Teluk Saleh Institute (TSI), Menulis dari Kawasan Pariwisata Ailemak, Samota Sumbawa
Tadi malam ketemu seorang yang dipanggil Mek, di Caffe Kopi. Nama lengkapnya Zaenal Alfarisi. Pemilik kawasan Ailemak. Bapaknya beliau pensiunan BKSDA Provinsi NTB, bernama Alimuddin.
Beliau pak Mek anak muda, sama seperti saya. Datang salaman, saya sempat kaget karena langsung mengambil tangan saya untuk bersalaman.
Sementara, psikologis saya, masih sosial distancing. Tapi apa boleh buat sudah kandung salaman. Niatnya silaturrahmi.
Beliau undang saya untuk melihat potensi pariwisata Ailemak. Sekaligus, Olah Raga Yoga. Saya katakan; "wah menarik sekali, Insya Allah saya ikutan besok. Saya katakan begitu."
Namun, diwaktu subuh saya bangun, habis sholat subuh. Saya telpon jemputan. Ternyata, pemilik kendaraan belum bangun. So, alarm berdering hingga ke seluruh kompleks Grand Khalifah Sumbawa.
Alhasil, saya berangkat jam 7.16 yang mestinya jalan menuju Ai Lemak jam 6.00 pagi hari. Menuju kesana memakai motor besar. Bukan Harley, motor China terbaru milik adik saya.
Saya mengamati seluruh potensi lahan kosong mulai dari perbatasan antara Berangbiji dengan Desa Penyaring. Saya temukan, beberapa rumah warga. Ada juga melihat gedung Industri Beton.
Saya mengamati tanah-tanah kosong, pasti penuh dagangan Calo-Calo penjualan. Harga mulai bertingkat. Bahkan, adik saya sendiri memiliki tanah di sana berukuran 1 Are, kecil. Tetapi, turut berbangga walaupun kecil.
Di sebelah barat dan timur, ketemu wilayah - wilayah tempat investor akan mendirikan hotel, Bar, dan paket investasi infrastruktur lainnya.
Ternyata, jalan menuju Samota sangat banyak, seperti jalan menuju Roma. Tidak sulit. Bahkan orang penyaring dan sekitarnya lebih dekat. Orang desa penyaring kalau menuju Ai Lemak, terhitung hanya 4 kilo meter, saking dekatnya.
Ketika, keluar menuju jalan besar poros bypass Bundaran Hotel Sumbawa ke Samota, kelihatan dpinggir jalan, banyak sekali bertebaran potensi investasi; mulai hotel, industrial, perumahan, lahan-lahan kosong.
Sesampai masuk pada pintu jalan masuk Ai Lemak, kondisi jalan masih berdebu. Kendati belum diaspal. Masih banyak batu krikil - krikilnya. Mestinya, wewenang otoritas pengelolaan Samota mengusulkan agar infrastruktur jalan, dibebankan kepada investor yang mau masuk ke kawasan Samota.
Tentu stimulusnya dari pemerintah, yang dikawal melalui kebijakan khusus pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Samota - Samawa (KEK).
Kemudian, sesampai di pintu gerbang Ailemak, kami ditarik Rp5000 permotor dan mobil mungkin Rp10ribu. Mungkin ya, karena saya tidak naik mobil, kira - kira kisarannya begitu.
Lalu, disana sekitar sekilo masuk ke lokasi sampe ke pinggir lautnya. Dipinggir laut itu, melihat dan menikmati tenangnya air laut. Tak ada ombak besar.
Di depan saya berdiri dan duduk sambil ngopi itu, ada perbukitan seberang lautan sisi kiri, konon pemiliknya Jenderal, beristri orang Sumbawa. Ini pengakuan orang sekitar setelah saya wawancara.
Kemudian, sebelah kanan saya, terdapat perbukitan pemiliknya pak Mek atau Alimudin itu sendiri yang berbatasan langsung dengan Tanjung Menangis. Menurut pak Mek sendiri, anak pak Alimuddin luas tanahnya 40 hektar. Wow luar biasa.
Saya cukup decak kagum mendengarnya, saya bilang kepada pak Mek bin Alimuddin itu: "Bapak jangan jual tanahnya, cukup menyewa kepada investor yang mau membangun, lalu sharing and share keuntungan saja. Maka bapak akan menjadi seorang anak muda yang paling kaya raya ditanah Intan Bulaeng Samawa." Luar biasa.
Begitu pun, posisi para konglomerat di wilayah Samota dan Pulau Moyo. Konon, hasil bertanya - tanya pada masyarakat, bahwa di Tanjung Menangis itu, ada tanah, pemiliknya Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti, tidak tau persis luasnya berapa.
Juga ada tanahnya Ali Bin Dahlan mantan bupati Lombok Timur dua Periode. Ditambah, tanahnya Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Tanjung Menangis juga yang berhadapan langsung dengan destinasi Pulau Moyo. Juga, luasnya masing - masing tidak detail, berapa hektar.
Saya ingin katakan: "gembira dan senang hati dikuasai pengusaha nasional, bukan pengusaha luar negeri. Tentu pengusaha lokal tidak harus kalah saing. Jelas, harus berdaulat di tanah Intan Bulaeng Samawa itu sendiri."
Kemudian, dalam dialog saya dengan masyarakat, masih ada beberapa kendala di Samota yakni banyaknya Calo - calo pertanahan dan belum selesainya konflik agraria di Kawasan Samota. Semua masih saling klaim.
Sala satu contoh, pembanguan sektor perhotelan di kawasan Ailemak dan Tanjung menangis masih menyisakan masalah pelik, yakni 1. banyaknya Calo tanah, baik swasta maupun birokrasi; 2. Sertifikat tanah kepemilikan tidak jelas, karena dalam 1 hektar tanah bisa pemilik menjadi 4 - 5 orang;
Atas kedua masalah diatas, akan sulit sekali membangun kawasan Samota, karena pertimbangannya, tanahnya tidak clear and clean. Biasanya yang bermain menentukan ganda atau tidak sertifikat adalah Kepala Desa.
Kalau persfektif Badan Pertanahan Nasional (BPN) bahwa: "Sertifikat terbit atas usulan pemerintah desa sebagai syarat penerbitan sertifikat." Ada banyak contoh kasus makelar sertifikat ini, tentu sekarang semakin merajalela mencari keuntungan.
Nah, kedepan pemerintah harus turun tangan menyelesaikan konflik agraria seperti ini. Karena mempertimbangkan hak-hak masyarakat yang perlu dilindungi. Harus bisa memberantas mafia tanah. Terutama di Sumbawa, harus jelas status hal kepemilikannya sehingga pembangunan berjalan lancar.