telusur.co.id - Turki telah menolak proposal Mesir untuk menyepakati gencatan senjata di Libya. Turki mengklaim rencana gencatan senjata itu bertujuan untuk menyelamatkan komandan militer yang membangkang, Khalifa Haftar setelah pasukannya mengalami kekalahan telak.
Ankara mendukung Pemerintahan Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui secara internasional oleh Perdana Menteri Libya Fayez al-Serraj, yang pasukannya dalam beberapa pekan terakhir telah berhasil menangkis serangan Tentara Nasional Libya (LNA) Haftar. Haftar didukung oleh Uni Emirat Arab, Mesir dan Rusia.
Mesir menyerukan gencatan senjata dimulai pada hari Senin, sebagai bagian dari inisiatif yang juga mengusulkan dewan kepemimpinan terpilih untuk Libya. Rusia dan UEA menyambut baik rencana itu, sementara Jerman mengatakan pembicaraan yang didukung PBB adalah kunci bagi proses perdamaian.
Namun, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada hari Rabu menolak proposal tersebut sebagai upaya untuk menyelamatkan Haftar menyusul kerugian yang dideritanya di medan perang.
"Upaya gencatan senjata di Kairo masih mati. Jika gencatan senjata ditandatangani, itu harus dilakukan di sebuah platform yang menyatukan semua orang," kata Cavusoglu kepada Hurriyet Daily News. "Panggilan gencatan senjata untuk menyelamatkan Haftar tampaknya tidak tulus atau dapat dipercaya bagi kita."
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan mitranya dari Amerika Serikat, Presiden Donald Trump, membahas Libya dalam sebuah panggilan pada hari Senin. Erdogan mengatakan keduanya menyetujui "beberapa masalah" di Libya. Salah satunya mendukung GNA terus berjuang untuk merebut kota pesisir Sirte dan pangkalan udara Al-Jufra yang jauh di selatan dari pasukan Haftar.
Cavusoglu mengatakan Erdogan dan Trump telah mendelegasikan menteri luar negeri dan pertahanan mereka, kepala intelijen dan penasihat keamanan untuk membahas langkah-langkah yang mungkin di Libya.
Secara terpisah, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengatakan kepada stasiun televisi A Haber bahwa Haftar akan terpuruk jika kekalahannya di medan perang terus bertambah.
"Ketika dukungan di belakangnya ditarik, diangkat, Haftar tentu akan menghilang di sana," kata Akar. [ham]



