telusur.co.id - Putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang digelar di Jenewa dinilai sebagai sesi "terbaik dan paling serius" sejauh ini, menurut Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Diskusi ini, yang termasuk salah satu sesi terpanjang, mencatat kemajuan dalam isu pencabutan sanksi dan masalah nuklir.
Araghchi mengatakan kedua pihak menunjukkan keseriusan lebih besar dibandingkan putaran sebelumnya, dengan beberapa bidang sudah "sangat dekat dengan pemahaman," meskipun beberapa isu masih belum terselesaikan. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah positif telah dicapai di jalur sanksi maupun nuklir, dan putaran keempat diharapkan berlangsung dalam waktu dekat.
Diskusi teknis dijadwalkan dimulai Senin depan di Wina, di mana delegasi Iran akan bertemu dengan ahli dari IAEA untuk membangun kerangka kerja bagi fase negosiasi berikutnya. Araghchi menekankan pentingnya dokumen persiapan yang harus disusun sebelum putaran keempat dan konsultasi di ibu kota masing-masing.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang memediasi proses ini, menyebut putaran ketiga berhasil mencapai "kemajuan signifikan," dan menegaskan diskusi teknis akan berlanjut minggu depan di Wina.
Sementara itu, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ibrahim Azizi, menegaskan semua garis merah Teheran dihormati dalam proposal Iran. Proposal itu mencakup isu kunci seperti pencabutan sanksi, investasi asing, dan peluang ekonomi domestik, yang diharapkan bisa menjadi dasar kesepakatan komprehensif jika Amerika Serikat mendekati negosiasi dengan keseriusan.
Momentum positif ini menunjukkan jalur diplomatik antara Teheran dan Washington tetap terbuka meski tantangan kompleks masih ada, dan putaran berikutnya akan menjadi penentu langkah konkret menuju solusi politik dan ekonomi.
Almayadeen



