telusur.co.id - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak memiliki niat untuk memulai konflik bersenjata dan tetap berkomitmen pada perdamaian serta stabilitas kawasan. Ia menyatakan bahwa setiap langkah yang diambil Iran semata-mata merupakan bentuk pertahanan diri yang sah.
Dalam kunjungannya ke Kementerian Olahraga dan Pemuda, Pezeshkian menolak anggapan bahwa Iran adalah negara yang gemar berperang. Menurutnya, Iran justru mengedepankan prinsip perdamaian dan tidak pernah menyerang negara lain tanpa alasan.
“Iran tidak sedang mengupayakan perang dan tidak berniat memulai konflik. Apa yang kami lakukan adalah respons alami untuk membela diri,” ujarnya dikutip kantor berita Tasnim, Senin (20/4/2026).
Ia juga menyoroti kinerja Angkatan Bersenjata Iran yang dinilai mampu bertahan menghadapi tekanan dan ancaman dari Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, ketahanan tersebut bahkan mengejutkan banyak pengamat internasional.
Pezeshkian menuduh pihak lawan, setelah gagal mencapai tujuan militer, beralih menyerang infrastruktur sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya. Ia menilai tindakan tersebut melanggar hukum internasional dan mencerminkan keputusasaan.
Lebih lanjut, ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai standar ganda Barat dalam isu hak asasi manusia dan demokrasi. Menurutnya, klaim nilai-nilai tersebut tidak sejalan dengan tindakan yang dilakukan di kawasan.
Pernyataan ini menambah dinamika ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di mana masing-masing pihak terus menyampaikan narasi berbeda terkait situasi konflik dan keamanan regional.



