Azmi Syahputra
Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia(Alpha)& Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Karno.
Perkembangan tehnologi dan dinamika perilaku masyarakat yang begitu cepat dan kompetitif serta apapun fenomena yang terjadi saat ini, yang datangnya dari dalam maupun luar tidak terlepas dari praktik penyelengara negara yang sudah lari jauh dari Trisakti pendiri bangsa, format praktik yang salah dari para penyelenggara negara.
Advertensi ideologis negara telah terkubur dapat terlihat dari panorama penyelenggara negara yang tidak konsekuen dalam praktiknya selama berpuluh tahun dengan ideologi sendiri dan kini mulai dirasakan dan akhirnya berdampak pula pada sikap perilaku warga negaranya dan cendrung membuat Indonesia negara besar dan kaya raya ini jadi lebih rapuh, mudah diintervensi , tidak mampu berdiri di kakinya sendiri, ini semua akibat tonggat estafet penyelenggaraan negara pasca Presiden Soekarno kehilangan arah atas ideologi negara, praktik ideologi saat ini telah dimenangkan para pemilik uang dan karena kekuasaanlah yang membuatnya begitu membuat Indonesia mudah diguncang arus, kurang kokoh bangunan mental jiwa bangsanya cenderung semata demi keadilan individual.
Mau tidak mau secara langsung atau tidak langsung berdampak pada mental dan cara pandang kebanyakan warga akibat kebanyakan penyelengara negara yang lari dari Trisakti membawa jiwa dan sikap warga negara kebanyakan tidak lagi bernilai kekuataan trisakti yang syarat dengan nilai pancasila,
Ada 3 (Tiga) point utama dalam Trisakti berdaulat dibidang politik". berdikari dibidang ekonomi dan sakti ketiga "Berkepribadian dibidang kebudayaan".
Kini ketiga kalimat sakti tersebut tidak ampuh lagi dan berasa hambar , padahal konsep trislsakti inilah yang membuat bangsa ini "Berdiri di atas kaki sendiri (Berdikari)", tidak tergantung oramg lain adalah kalimat sakti yang fundamen sebagai prinsip mewujudkan tujuan negara yang demokratis sejahtera, berkeadilan sosial.
Maka kini teruslah berkarya, berinovasi, batasi import, bangga dengan produk bangsa sendiri, dan mendorong semua dan setiap individu Indonesia harus bermental ketuhan yang maha esa, rasa kemanusiaan yang berpersatuan, pemimpin yang berkhidmat serta keadilaan sosial sehingga apapun fenomena yang akan terjadi pasti akan mudah dihadapi.
Inilah salah satu solusi, kembali pada kunci pertahanan ideologi Indonesia, rumah trisakti dan nilai nilai pancasila yang selama ini diabaikan,kini hanya butuh komitmen nasionalisme dan konsistensi dalam inplementasinya serta kejernihan hati para penyelenggara negara agar jadi contoh teladan kepemimpinan guna penerapan trisakti ini agar dapat lebih berjiwa dan maksimal hasilnya dalam pelaksanaan berbangsa dan bernegara.[]



