Telusur.co.id - Oleh: Muhammad Yadi. (wartawan telusur.co.id)
Kembali mengingat sejarah gerakan penumpasan pemberontakan DI/TII di Cibeet (Benteng) yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Ibu Kabupaten Bandung pada tahun 1964 silam. Dan akhir perjalanan petinggi Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Negara Islam Indonesia (NII) yang dikenal Darul Islam (DI) adalah kelompok Islam yang akan mendirikan negara Islam di Indonesia dimulai pergerakan tersebut pada tanggal 7 Agustus 1949 setelah Indonesia Merdeka yang dipimpin oleh kelompok milisi muslim dikoordinasikan seorang politisi muslim bernama Sukarmadji Maridjan Kartosuwirjo di Desa Cisampang Kecamatan Ciawileger Kewedanaan Cicayong Kabupaten Tasikmalaya.
Gerakan NII ini mendapat simpati masyarakat begitu luas, dengan cabang dimana - mana. Kelompok ini dengan nama Syare'at Islam anti kekerasan. Dalam memproklamirkan kemerdekaan Islam sebagai dasar negaranya yakni "Hukum yang berlaku di negara Indonesia adalah hukum Islam" dibentuk Undang - Undang nya Negara Berdasarkan Islam dan hukum yang tertinggi Al-Qur'an dan Sunnah.
SM Kartosoewirjo dilahirkan di Cepu Belora Jawa Tengah pada tanggal 7 Januari 1905. Dia adalah anak seorang lurah di Cepu bernama Marco Kartodikromo. Ayahnya terkenal sebagai seorang penulis anti Kolonial Belanda. Sedangkan ayah dari Marco Kartodikromo itu sendiri anak dari lurah Panolan Cepu yang masih keturunan Raden Arya Penangsang seorang Adipati Jipang pada abad ke 16.
SM Kartosoewirjo belajar pada seorang guru Tokoh Islam Modern bernama Notodihardjo yang mengikuti alur pemikiran Muhammdiyah. Sedangkan untuk pendidikan pormal Kartosuwirjo menempuh pendidikan modern yang didirikan oleh Belanda sekolah khusus untuk kalangan orang Eropa Euroupeesche Lagere School (ELS).
Dia kemudian melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Kedokteran di Surabaya "Nederlands Indesche Artsen School" disa'at ini lah Kartosuwirjo bergabung dengan Organisasi Serikat Islam yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto dan juga sebagai sekretaris pribadi H.O.S Tjokroaminoto serta tinggal bersamanya.
"SM. Kartosoewirjo seorang pelaku sejarah yang menolak keras terhadap idiologi selain Al-Qur'an dan Hadist Shahih. Siapapun yang melanggar hukum Al-Qur'an dan Hadist Shahih maka disebut Hukum Kafir".
Lalu SM. Kartosoewirjo belajar ilmu politik bersama HOS. Tjokroaminoto, oleh karena itulah tidak mengherankan Kartosuwirjo tumbuh dan berkembang sebagai seorang yang memiliki integritas ke-Islam an yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi. Dia pun tidak lulus mengenyam pendidikan Ilmu Kedokteran di di Surabaya karena dikelurakan dari Nederlands Indesche Artsen School lantaran dianggap sebagai aktivis politik.
SM Kartosoewirjo adalah pelaku sejarah kontroversial, ada yang menyebutkan bahwa SM. Kartosoewirjo dilahirkan pada 7 Pebruari 1905. (tulisan Irvan S. Awass) pada buku "Perjalanan Jihad SM. Kartosoewirjo" serta tulisan Kholid Santoso "Jejak Jejak Sang Pejuang Pemberontak" sedangkan Al Chaidar dalam buku "Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam" SM. Kartosoewirjo dilahirkan pada 7 Januari 1907. Namun menurut biografi SM. Kartosoewirjo dilahirkan pada tahun 1919.
Pada tahun 1923 SM. Kartosoewirjo bergabung dengan Jong Java, pada kelompok tersebut kemudian pada tahun 1925 terjadi perpecahan antara dan timbul masalah antara anggota. Ada yang mengutamakan cita- cita Islam dan ada yang mengutamakan nasionalisme sekuler. Pada akhirnya SM. Kartosoewirjo bersama anggota lain yang mengatakan ke Islam man keluar dari Jong Java.
Bersambung