telusur.co.id - Dua Lipa dikenal dunia sebagai bintang pop dengan deretan lagu hit yang mendominasi tangga musik internasional. Namun di luar panggung dan sorotan konser, penyanyi peraih berbagai penghargaan itu ternyata memiliki kecintaan lain yang tak kalah besar: buku.
Kecintaan tersebut kini diwujudkannya dalam sebuah proyek yang tak biasa dan mengundang rasa penasaran banyak orang. Dua Lipa resmi membuka sebuah perpustakaan yang tidak berisi buku-buku populer pada umumnya, melainkan karya-karya yang pernah dilarang, disensor, bahkan dianggap berbahaya di berbagai negara.
Perpustakaan bernama Manifesto Library itu baru saja diresmikan di Porto, Portugal, dan menjadi bagian dari festival buku internasional BABELL - City of Books. Koleksi tersebut nantinya akan menjadi instalasi permanen di toko buku legendaris Livraria Lello yang selama ini dikenal sebagai salah satu toko buku paling indah di dunia.
Bagi penyanyi berdarah Albania-Kosovo itu, proyek ini bukan sekadar ruang baca, melainkan bagian dari misi panjang untuk mendekatkan masyarakat dengan literasi dan kebebasan berpikir.
"Kolaborasi ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Ketika saya mendirikan Service95 Book Club, tujuan saya adalah menjadikannya rumah bagi para penulis dan pembaca, di mana pun mereka berada dan apa pun keadaan mereka," ujar Dua Lipa seperti dikutip dari Euro News.
Melalui Service95 Book Club, pelantun Levitating tersebut memang rutin merekomendasikan satu buku setiap bulan dan berbincang langsung dengan penulisnya melalui podcast khusus.
Menurut Dua Lipa, membaca memiliki kekuatan untuk memperluas cara pandang manusia terhadap dunia. Namun justru karena kekuatan itulah, sejumlah buku pernah dilarang beredar atau disingkirkan dari rak-rak perpustakaan.
"Membaca membuat kita lebih dekat dengan dunia, tetapi sayangnya tidak semua orang menginginkan hal itu," kata penyanyi berusia 31 tahun tersebut.
Di dalam Manifesto Library, pengunjung akan menemukan hampir 100 judul buku yang pernah menuai kontroversi atau menjadi sasaran sensor.
Sebagian di antaranya dilarang di sekolah karena membahas isu ras dan seksualitas. Ada pula buku-buku yang ditujukan bagi pembaca LGBTQIA+ yang pernah dilarang dipajang di sejumlah tempat. Bahkan, menurut Dua Lipa, beberapa penulis harus membayar keberanian mereka dengan harga yang sangat mahal.
"Di sini Anda akan menemukan 100 buku yang mengajukan pertanyaan atau justru pernah dipertanyakan. Dalam beberapa kasus, ada penulis yang harus membayar karya mereka dengan nyawa," ujarnya.
Manifesto Library dibagi ke dalam empat tema besar, yakni kekuasaan, kontrol, suara, dan ingatan. Di antara deretan judul yang tersedia terdapat novel terkenal The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, hingga sejumlah karya dari Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk yang selama ini dikenal lantang menyuarakan isu kebebasan dan kemanusiaan.
Bagi Dua Lipa, perpustakaan tersebut merupakan penghormatan bagi para penulis yang tetap memilih bersuara di tengah tekanan, pelarangan, hingga ancaman.
Ia pun mengajak masyarakat untuk datang dan menentukan sendiri buku mana yang layak dibaca dan diperdebatkan.
"Kadang-kadang, tindakan paling berani yang bisa dilakukan adalah membaca sebuah buku, lalu membicarakannya," kata Dua Lipa.
Di tengah meningkatnya perdebatan mengenai sensor buku di berbagai belahan dunia, Manifesto Library hadir bukan hanya sebagai ruang membaca, tetapi juga sebagai pengingat bahwa ide dan gagasan sering kali menjadi hal pertama yang ingin dibungkam.



