Oleh : Abdullah Uwais Alatas*
SATU faktor utama yang tidak bisa diingkari bila kita menilai eksistensi dan kiprah politik PAN sebagai partai politik yang lahir di awal reformasi adalah bangunan relasinya secara lahiriyah dan batiniyah ada pada sosok Amien Rais. Beliau sosok faktual pemegang kendali utama kejatuhan politik kekuasaan orde baru dan mengawali lahirnya orde reformasi. Karena itulah, Amien Rais tidak bisa dihilangkan eksistensinya sebagai bapak reformasi.
Dari sejak lahirnya PAN yang dibidani seorang Amien Rais, perjalanan politik PAN sampai saat ini tidak lepas dari bayang-bayang beliau. Kuatnya pengaruh Amien Rais di PAN tidak lepas dari kepribadiannya yang lurus, cerdas, kritis dan tegas dalam menyikapi realitas politik kekuasaan. Karena itu tidak heran bagi kader dan aktivis PAN, sosok Amien Rais begitu lekat menjadi panutan, lebih karena konsisten atau istiqamahnya beliau dalam berjuang mengawal demokrasi untuk tidak mengarah pada tirani kekuasaan.
Dari sejak kongres PAN pertama tahun 2000, dimana Amien Rais menjadi ketua umumnya, sampai saat ini, beliau terlihat mengawal sebaik mungkin eksistensi demokratisasi dan independensi politik sebagai ruh utama PAN sebagai partai politik.
Eksistensi demokratisasi di tubuh PAN memang dijaga sekuat tenaga oleh Amien Rais. Kenyataan ini dibuktikannya sendiri sejak beliau menjadi ketua umum dalam kongres PAN pertama untuk 1 periode selama 5 tahun, setelah itu beliau tidak mencalonkan lagi di kongres PAN kedua, tahun 2005.
Semangat untuk mengawal demokratisasi dalam tubuh PAN inilah kekuatan utama seorang Amien Rais. Dari mulai kongres PAN II sampai saat ini pada kongres V PAN di Kendari, ruh demokrasi yang ditanam oleh Amien Rais menjadi panduan berharga bagi kader PAN itu sendiri.
Hadirnya Amien Rais sebagai pemandu demokrasi dan arah politik di tubuh PAN terbukti di setiap kongres PAN. Kecermatan kalkulasi politik, ditunjang pengalamannya sebagai pelaku politik nasional harus diakui telah membawa PAN menjadi satu partai politik yang masih eksis dan dinilai terhormat saat ini.
Pada kongres PAN II, arahan Amien Rais untuk memilih pengusaha muda Sutrisno Bachir daripada Fuad Bawazier merupakan langkah tepat. Bukan karena tidak menyukai kepakaran ekonomi yang dimiliki Fuad Bawazier, tetapi Amien Rais melihat eksistensi PAN sebagai partai politik pro reformasinya tidak rusak.
Sutrisno Bachir pun menjabat ketua umum PAN hanya 1 periode saja. Pada Kongres PAN III, pengaruh kuat Amien Rais juga melahirkan ketua umum baru, yaitu Hatta Rajasa. Setelah sebelumnya Dradjad Wibowo mengundurkan diri sebagai penantang Hatta Rajasa. Amien Rais meminta keduanya bersatu. Dan akhirnya keduanya sepakat berbagi kekuasaan, yaitu Hatta sebagai ketua umum, sedangkan Dradjad menjadi wakilnya.
Pada kongres ke IV, peran besar Amien Rais boleh dinilai berhasil mencegah bahaya otoritarianisme di tubuh PAN. Amin sukses menempatkan Zulkifli Hasan mengalahkan Hatta Rajasa yang maju untuk kedua kalinya dan waktu itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Keuangan.
Menilai rekam jejak Amien Rais yang amat kuat eksistensinya sebagai pemandu arah demokrasi dan independensi PAN untuk menentukan figur ketua umum PAN, maka menjadi pertanyaan buat kita, apakah faktor Amien ini akan berlanjut di Kongres V PAN?
Meskipun tidak ada tradisi memohon restu Amien Rais dalam pencalonan ketua umum PAN, namun harus diakui, siapapun yang didukung beliau terbukti memperoleh kemenangan, dari sejak kongres PAN II sampai IV.
Dalam kongres V PAN yang tengah berlangsung saat ini, diketahui Amien Rais merekomendasikan kepada kader PAN untuk memilih Mulfachri Harahap sebagai ketua umum PAN yang baru.
Menjadi satu pertanyaan yang mesti dijawab, mengapa Amien Rais tidak lagi mendukung Zulkifli Hasan, padahal Zulkifli Hasan adalah besan beliau? Bukankah mudah bagi seorang Amien Rais mendukung Zulkifli Hasan? Kalau ukurannya membangun dinasti politik, bukankah ruang untuk itu sedemikian terbuka?
Di sinilah sebenarnya letak keindahan sikap politik Amien Rais. Beliau bukan politikus untuk syahwat politik pribadi. Garis perjuangan politiknya tegak dan kokoh untuk pengabdian pada penguatan demokrasi dan membangun masyarakat civil society dengan peradaban politik yang mulia.
Untuk seorang Amien Rais, mempertahankan tradisi demokrasi di tubuh PAN lebih utama daripada hubungan kekerabatan. Amien Rais tidak mau tradisi kepemimpinan PAN terkoyak dengan mendukung Zulkifli Hasan pimpin PAN kedua kalinya.
Tidak itu saja yang mesti diapresiasi. Insting dan kalkulasi politik Amien Rais dalam menguatkan kaderisasi kepemimpinan PAN terbukti berhasil melahirkan bobot politik PAN sendiri sebagai partai politik untuk tetap pada platform independensinya mengawal kedaulatan rakyat.
Amien Rais pasti berhitung bahwa bobot politik PAN tidak akan bisa ideal di tangan Zulkifli Hasan. Insting politik menguatkan keterjagaan PAN dari ancaman salah arah inilah kekuatan sukma politik seorang Amien Rais.
)* Penulis adalah pemerhati politik.



