telusur.co.id - Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) dilaporkan tengah mempersiapkan operasi darat terbatas selama beberapa minggu di Iran. Hal ini kemungkinan mencakup serangan terhadap Pulau Kharg dan lokasi pesisir di dekat Selat Hormuz.
Menurut pejabat Amerika yang dikutip oleh surat kabar The Washington Post, Sabtu (28/3/2026), rencana yang tidak sampai pada invasi penuh itu, akan melibatkan pasukan khusus dan pasukan infanteri konvensional. Namun, hal ini membuat personel AS dalam kondisi rentan terhadap drone dan rudal Iran, tembakan darat, dan bahan peledak rakitan.
Menurut laporan tersebut, masih belum pasti apakah Presiden Donald Trump akan menyetujui salah satu dari rencana-rencana tersebut.
"Merupakan tugas Pentagon untuk melakukan persiapan agar memberikan Panglima Tertinggi pilihan maksimal. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan," kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam sebuah pernyataan, menanggapi pertanyaan tentang laporan Post tersebut.
Pemerintahan Trump telah mengerahkan Marinir AS ke Timur Tengah seiring perang di Iran yang memasuki minggu kelima, dan juga berencana untuk mengirim ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat ke wilayah tersebut.
Pada hari Sabtu, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan, sekitar 3.500 tentara tambahan tiba di Timur Tengah dengan menumpang kapal USS Tripoli.
Para pelaut dan marinir tersebut tergabung dalam Unit Ekspedisi Marinir ke-31 dan tiba di wilayah tersebut pada tanggal 27 Maret, bersama dengan “pesawat angkut dan pesawat tempur serang, serta aset serbu amfibi dan taktis”, menurut CENTCOM.
Para pejabat yang berbicara kepada The Washington Post mengatakan bahwa diskusi di dalam pemerintahan selama sebulan terakhir, telah menyentuh kemungkinan perebutan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk, dan penggerebekan ke daerah pesisir lainnya di dekat Selat Hormuz untuk menemukan dan menghancurkan senjata yang dapat menargetkan pengiriman komersial dan militer.
Menurut laporan tersebut, satu orang mengatakan bahwa tujuan yang sedang dipertimbangkan kemungkinan akan membutuhkan waktu "beberapa minggu, bukan beberapa bulan" untuk diselesaikan, sementara orang lain memperkirakan jangka waktunya sekitar "beberapa bulan".
Pentagon belum menanggapi permintaan komentar dari Post pada hari Sabtu. Iran juga belum menanggapi laporan tersebut.
Laporan ini muncul ketika Pakistan, yang memiliki perbatasan sepanjang 900 km (559 mil) dengan Iran, menjadi mediator antara Washington dan Teheran, dengan menyelenggarakan pembicaraan selama dua hari yang dimulai pada hari Minggu dengan para menteri luar negeri Arab Saudi, Turki, dan Mesir.
Ancaman Iran
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, pada hari Minggu (29/3/2026), bahwa "musuh secara terbuka mengirimkan pesan negosiasi dan dialog dan secara diam-diam merencanakan serangan darat".
“Mereka tidak menyadari bahwa pasukan kita sedang menunggu kedatangan tentara Amerika di darat untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya. Tembakan kita terus berlanjut. Rudal kita sudah siap,” lapor kantor berita Tasnim, mengutip Ghalibaf.
“Tekad dan keyakinan kita telah meningkat. Kita menyadari kelemahan musuh, dan kita melihat dengan jelas dampak rasa takut dan teror di pasukan musuh.”
Tidak jelas apakah Ghalibaf menanggapi laporan Post tersebut. Pada hari Rabu, Ghalibaf telah memperingatkan bahwa laporan intelijen menunjukkan bahwa "musuh-musuh Iran" berencana untuk menduduki sebuah pulau Iran dengan dukungan dari negara yang tidak disebutkan namanya di kawasan tersebut.
Dia menegaskan, setiap upaya semacam itu akan ditanggapi dengan serangan yang ditargetkan pada "infrastruktur vital" negara regional yang membantu operasi tersebut– nama negaranya tidak ia sebutkan.
Sementara itu, kepala angkatan laut Iran, Shahram Irani, mengatakan pada hari Minggu bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln akan menjadi sasaran jika berada dalam jangkauan.
“Begitu kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln berada dalam jangkauan tembak, kami akan membalas darah para martir kapal perang Dena dengan meluncurkan berbagai jenis rudal laut-ke-laut,” kata Irani seperti dikutip oleh televisi pemerintah, merujuk pada fregat Iran yang ditenggelamkan oleh AS pada 4 Maret.
Pada hari Rabu, Tasnim mengutip sumber militer yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa Iran dapat membuka front baru di muara Laut Merah jika aksi militer terjadi di "pulau-pulau Iran atau di tempat lain di wilayah kami".
Sumber tersebut mengatakan kepada Tasnim bahwa Iran dapat menimbulkan "ancaman yang nyata" di Selat Bab al-Mandeb, yang terletak di antara Yaman dan Djibouti.
Tasnim kemudian mengutip sebuah "sumber yang terinformasi" yang mengklaim bahwa pemberontak Houthi Yaman, yang didukung oleh Iran, siap memainkan peran "jika ada kebutuhan untuk mengendalikan Selat Bab al-Mandeb untuk menghukum musuh lebih lanjut".[Nug]



