telusur.co.id - Presiden Prancis Emmanuel Macron menyoroti fokus hubungan strategis antara Indonesia dan Prancis saat menjamu Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam jamuan makan malam di Istana Kepresidenan Élysée, Jumat (23/1) malam waktu setempat. Pertemuan ini berlangsung setelah Presiden Prabowo menyampaikan pidato khusus di Annual Meeting Davos, World Economic Forum, di Swiss pada Kamis (22/1).
Dalam sambutannya, Presiden Macron menyatakan kegembiraannya menerima Presiden Prabowo di Paris. "Senang menyambut hari ini di Paris Presiden Indonesia, Prabowo Subianto," ujar Macron dalam siaran resmi yang dikutip di Jakarta, Sabtu.
Ia menekankan pentingnya penguatan kemitraan strategis antara kedua negara di berbagai bidang serta keselarasan pandangan mengenai isu-isu global dan internasional. Menurut Macron, keselarasan ini sejalan dengan agenda Prancis dalam kerangka kepresidenannya di G7.
Walaupun demikian, Presiden Macron tidak merinci lebih lanjut isu-isu global yang dimaksud, termasuk posisi Indonesia-Prancis terkait Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. Indonesia resmi menjadi anggota dan salah satu penandatangan piagam pembentukan Dewan Perdamaian tersebut dalam rangkaian WEF di Davos.
Secara terbuka, Macron menegaskan bahwa Prancis menolak undangan AS untuk bergabung sebagai anggota Dewan Perdamaian. Pemerintah Prancis menyatakan masih mengutamakan lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjalankan fungsi pemulihan stabilitas dan menjaga perdamaian di Gaza, Palestina.
Dalam keterangan resmi, pemerintah Prancis menjelaskan bahwa Dewan Perdamaian yang dipimpin oleh Presiden Trump berada di luar kerangka kesepakatan internasional terkait pemulihan Gaza. Selain itu, keberadaannya menimbulkan sejumlah pertanyaan serius, terutama terkait prinsip-prinsip yang disepakati bersama oleh negara-negara anggota PBB serta struktur PBB sebagai lembaga dunia yang diakui untuk menangani proses pemulihan selama masa gencatan senjata dan pascaperang.
Jamuan makan malam ini menandai pertemuan diplomatik ketiga antara Presiden Macron dan Presiden Prabowo, setelah sebelumnya Macron menjamu Prabowo pada 14 Juli 2025 dan pada Juli 2024 ketika Prabowo masih berstatus sebagai presiden terpilih. Pertemuan ini dianggap sebagai ruang dialog penting untuk memperkuat komunikasi personal kedua pemimpin sekaligus membuka peluang kerja sama strategis Indonesia-Prancis di masa depan. [ham]




