telusur.co.id - Langkah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte untuk memutus penyebaran virus corona di negaranya terbilang tegas dan keras. Bagaimana tidak. Duterte memerintahkan polisi dan militer untuk menembak mati siapa pun yang melanggar perintah lockdown di Pulau Luzon.
"Perintah saya kepada polisi dan militer, jika ada yang membuat masalah: tembak mati," ujar Duterte, dalam pidato nasional di televisi pada Rabu (2/4).
Untuk itu, Duterte mengingatkan kepada masyarakat untuk memperhatikan peringatan serta aturan pemerintah karena ini adalah perintah sangat penting, dan jangan membahayakan pekerja kesehatan, serta para dokter, karena itu adalah kejahatan serius.
Alasan Duterte mengeluarkan perintah tembak mati itu karena penduduk di sebuah daerah kumuh di Kota Quezon Manila melakukan protes di sepanjang jalan raya. Mereka mengklaim belum menerima paket makanan dan pasokan bantuan lainnya sejak lockdown dimulai lebih dari dua minggu lalu.
Pemimpin aksi protes, Jocy Lopez mengatakan, mereka terpaksa melakukan demonstrasi karena tidak memiliki bahan pangan selama masa lockdown.
"Kami di sini untuk meminta bantuan karena kelaparan. Kami belum diberi makanan, beras, bahan makanan atau uang tunai. Kami tidak punya pekerjaan," ujar Lopez, dilansir Aljazirah. [ham]



