Kendaraan Pribadi Disebut Penyumbang Terbanyak Polusi Udara, Solusinya? - Telusur

Kendaraan Pribadi Disebut Penyumbang Terbanyak Polusi Udara, Solusinya?


telusur.co.id - Fenomena street canyon atau udara yang terperangkap di antara gedung-gedung di perkotaan membuat konsentrasi pencemaran udara akibat emisi kendaraan semakin tinggi. 

Upaya mengatasinya, isu transportasi yang berkelanjutan dan mengubah gaya hidup dalam penggunaan kendaraan pribadi menjadi penting untuk di daerah perkotaan seperti di Jakarta.

"Isu transportasi yang berkelanjutan atau mengubah gaya hidup itu menjadi penting untuk di daerah perkotaan,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sigit Reliantoro, Minggu (13/8/23).

Menurut dia, karakteristik pencemaran di perkotaan terjadi akibat street canyon. Jalan menjadi lembah dan penghalang lembah itu adalah gedung-gedung yang ada di sekitarnya. Kondisi tersebut terjad ketika angin melintasi gedung, terdapat angin yang terhalang oleh gedung lainnya dan menyebabkan angin tersebut terperangkap di ruang di antara gedung itu.

"Itulah yang sebetulnya kenapa di Jakarta terjadi konsetrasi yang cukup tinggi. Karena ada fenomena street canyon tadi. Bandung pun secara luas seperti itu karena bentuknya lembah. Dia tidak bisa ke mana-mana, ada sumber emisi di situ, maka terperangkap. Dia bisa lolos kalau ada hujan atau angin yang bikin angin yang terperangkap terpecah,” terang dia.

Sigit juga memaparkan data yang diinvetarisasi oleh Bloomberg Philanthropies, DKI Jakarta, dan Vita Strategic. Di mana, ada sejumlah hal yang memproduksi emisi di Jakarta dan aktivitas tranpsortasi jadi yang terbesar, yakni 44 persen. 

Sementara 56 persen sisanya terbagi menjadi empat, yakni dari industri energi, industri rumahan, industri manufaktur, dan yang terkecil adalah kegiatan komersial di gedung-gedung.

“Dari sini terlihat bahwa transport merupakan unsur penting. Dan itu mengonfirmasi teori tadi, bahwa penyebab terjadinya street canyon sebagian besar adalah dari aktivitas transportasi,” kata Sigit.

Berdasarkan data tahun 2018-2022, pada 2022 ada 24,5 juta kendaraan bermotor yang teregistrasi di DKI Jakarta, dengan 78 persen di antaranya sepeda motor. Dalam jangka waktu tersebut, pertumbuhan kendaraan bermotor per tahunnya mencapai angka 5,7 persen dengan sepeda motor sendiri sebesar 6,38 persen. 

Dengan kata lain, setiap tahunnya pada periode tersebut terjadi penambahan 1,2 juta kendaraan bermotor di mana 1,046 juta di antaranya sepeda motor.

Sejatinya, konsep transportasi yang paling penting adalah upaya memperbanyak perpindahan orang, bukan memperbanyak perpindahan kendaraan. Sebab itu, efisiensi dan efektivitas menggunakan kendaraan menjadi sangat penting untuk diperhatikan. 

Berdasarkan perhitungan KLHK, penggunaan bus untuk berpindah tempat akan jauh lebih kecil kontribusinya terhadap pencemaran ketimbang sepeda motor dan

"Artinya, kalau kita naik bus, itu kontribusi kita terhadap CO2 jauh lebih kecil dibandingkan kalau kita naik sepeda motor, mobil pribadi. Itu (sepeda motor dan mobil pribadi) jauh lebih besar sumbangannya terhadap pencemaran,” jelas dia.

Menurut Sigit, pemberitaan mengenai kualitas udara di Jakarta belakangan ini memberikan peringatan kepada semua pihak untuk mempertanyakan kesiapan untuk bersedia menjadi negara maju yang berpendapatan tinggi atau menjadi negara yang terperangkap di middle trap income. 

Jika keinginan untuk menjadi negara maju kuat, maka perubahan perilaku menjadi perilaku orang-orang di negara maju diperlukan.

"Kalau kita berkeinginan kuat ingin menjadi negara maju, maka perubahan perilaku pun juga diperlukan menjadi perilaku negara maju. Di negara maju, prioritas pertama adalah jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum, kendaraan pribadi yang listrik, baru kendaraan pribadi yang sekarang kita gunakan,” ungkap dia.

Menurut dia, jika semua pihak tetap mempertahankan kebiasaan atau perilaku yang dilakukan saat ini, maka bukan tidak mungkin negara ini akan terjebak pada jebakan yang tak berkesudahan. Di mana, ketika seorang sudah memiliki pendapatan yang bagus, maka orang itu membeli mobil bukan untuk keperluan yang sebenarnya.

Ketika semakin banyak orang membeli kendaraan, akan timbul permintaan jalan diperlebar. Dari sana, akan semakin banyak pula yang kemudian membeli kendaraan dan kemudian permintaan pelebaran jalan akan kembali dilakukan. Siklus tersebut berjalan tanpa henti, tentu dengan sumbangan emisi yang semakin banyak.

"Sehingga yang terjadi adalah kita infrastrukturnya justru memfasilitasi untuk mencemari dengan kendaraan kita. Sehingga sebetulnya yang perlu diswitch itu, yang penting itu pergerakan orang, bukan kendaraannya,” kata dia.

Dia juga menerangkan, berdasarkan teori, biasanya kendaraan publik atau fasilitas transportasi umum itu gagal karena tidak disukai. Hal itu yang dia sebut dapat membuat terjadinya siklus di atas. 

Maka itu, perubahan perilaku benar-benar diperlukan. Semua pihak harus mau berkorban merasakan hal yang tidak enak terlebih dahulu demi menuju kualitas udara yang lebih baik lagi ke depan.

"Memang harus ada pengorbanan dari kita semua untuk nggak enak dulu gitu. Baru nanti semakin, ‘oh ya ternyata kebutuhannya besar’. Pasti juga akan diadakan (kendaraan umum yang baik). Enggak diadakan ini kan karena sebagian yang sudah ada tidak dimanfaatkan secara optimal,” kata dia.[Fhr]
 


Tinggalkan Komentar