telusur.co.id - Pemimpin baru Hungaria, Peter Magyar, langsung tancap gas usai kemenangan besar partainya dalam pemilu. Ia mengumumkan rencana besar untuk merombak total media pemerintah sekaligus mendesak presiden negara itu mundur dari jabatannya.
Dilansir Aljazeerah, Partai Tisza (Hormat dan Kebebasan) yang dipimpinnya berhasil mengakhiri dominasi Viktor Orbán selama 16 tahun—sebuah perubahan politik besar yang mengguncang lanskap kekuasaan di negara tersebut.
Dalam langkah awal yang mengejutkan, Magyar menyatakan akan menangguhkan siaran berita media publik. Ia menuding media pemerintah selama ini tidak netral dan sarat propaganda.
“Setiap warga Hungaria berhak mendapatkan media publik yang menyampaikan kebenaran,” tegasnya.
Magyar bahkan secara langsung menantang narasi media saat tampil di televisi pemerintah untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu tahun. Ia menyebut momen tersebut sebagai “hari-hari terakhir mesin propaganda”.
Sorotan tak berhenti di situ. Dalam pertemuannya dengan Presiden Tamás Sulyok di Istana Alexander, Budapest, Magyar secara terbuka menyatakan bahwa sang presiden tidak layak menjadi simbol persatuan nasional, dan meminta agar ia mengundurkan diri setelah pemerintahan baru terbentuk.
Di balik manuver politiknya, Magyar juga dihadapkan pada tantangan ekonomi besar. Lebih dari €16 miliar dana pemulihan pandemi dari Uni Eropa masih tertahan akibat kekhawatiran soal supremasi hukum. Jika tidak memenuhi syarat hingga akhir Agustus, dana tersebut terancam hangus.
Untuk itu, Magyar telah membuka komunikasi dengan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, guna memulai konsultasi sebelum pemerintahannya resmi terbentuk pada Mei mendatang.
Ia menegaskan hanya akan menyetujui persyaratan yang menguntungkan rakyat dan kepentingan nasional Hungaria.
Sebagai bagian dari agenda reformasi, Magyar memprioritaskan empat hal utama: pemberantasan korupsi (termasuk bergabung dengan Kejaksaan Umum Eropa), pemulihan independensi peradilan, serta membangun kembali kebebasan media dan akademik.



