telusur.co.id - Semua negara sedang berjibaku melawan virus corona. Tapi, tidak di Suriah. Perang saudara masih berkecamuk. Saling serang terus terjadi.
Senin sore kemarin, sedikitnya 40 orang tewas dalam serangan bom di kota Afrin, Suriah barat laut. Ketika Pasar sedanh penuh dengan pembeli di jam-jam sebelum umat Islam berbuka puasa setiap hari selama bulan suci Ramadhan.
Truk tanker bahan bakar meledak di pasar terbuka di daerah Souk Ali pusat Afrin dekat dengan kantor pemerintah setempat.
Gubernur provinsi perbatasan Turki tetangga Hatay mengatakan sebuah mobil tanker bahan bakar dengan granat tangan meledak di pasar yang ramai.
Dia dan kementerian pertahanan Turki menyalahkan Uni Patriotik Kurdistan (PKK), sebuah kelompok yang telah memperjuangkan otonomi Kurdi di Turki selama beberapa dekade.
Afrin dikendalikan oleh pasukan Turki dan faksi-faksi oposisi Suriah yang bersekutu.
Pada tahun 2018, mereka meluncurkan operasi bersama untuk mengusir milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah (YPG) keluar dari kota dan wilayah sekitarnya.
Pemerintah Turki menuduh YPG sebagai perpanjangan dari PKK, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa.
YPG, yang diandalkan AS untuk mengalahkan kelompok jihadis Negara Islam (IS) di Suriah, mengatakan mereka adalah entitas yang terpisah.
Kementerian pertahanan Turki mengatakan semua yang tewas dalam serangan itu adalah warga sipil dan mereka termasuk 11 anak-anak. Empat puluh tujuh warga sipil lainnya terluka, tambahnya.
"Musuh umat manusia PKK / YPG sekali lagi menargetkan warga sipil tak berdosa di Afrin," kementerian itu mentweet, tanpa memberikan bukti apa pun.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan 40 warga sipil tewas bersama dengan enam pejuang oposisi Suriah yang bersekutu ke Turki



