telusur.co.id - Pertanyaan tentang keselamatan pekerja di Amazon meningkat sekali lagi, setelah tornado menghantam gudang Amazon di Edwardsville, Illinois, pada hari Jumat (10/12/21) lalu, yang menyebabkan enam orang tewas dan satu dirawat di rumah sakit.
Senin kemarin, Administrasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja federal mengatakan, telah membuka penyelidikan keselamatan tempat kerja atas runtuhnya gudang. Sementara, pekerja dan aktivis menyerukan harus lebih banyak tindakan.
Kekhawatiran atas hak-hak buruh di raksasa e-commerce itu telah meningkat, diperburuk oleh tuduhan bahwa perusahaan gagal untuk memberitahukan secara memadai pekerja dan pejabat kesehatan tentang kasus Covid-19.
Marcos Ceniceros, penyelenggara di Warehouse Workers for Justice mengatakan, Insiden ini mempertanyakan begitu banyak praktik Amazon di gudang mereka.
"Ini bukan pertama kalinya kami melihat pekerja menderita di Amazon dan kami ingin memastikan bahwa mereka tidak terus mengambil jalan pintas dan menempatkan pekerja dalam risiko,” kata Marcos.
Pekerja Gudang untuk keadilan telah menyerukan sidang di legislatif negara bagian Illinois untuk memeriksa apa yang menyebabkan kematian di gudang Amazon. Mereka juga meminta perusahaan untuk memastikan agar memiliki protokol keselamatan dan pelatihan untuk kejadian cuaca ekstrim dan risiko lainnya, seperti Covid-19 di masa depan.
Berbicara kepada Intercept pada hari Senin, sebanyak 12 pekerja Amazon menggambarkan kekhawatiran atas keselamatan tempat kerjanya.
Beberapa mengatakan mereka tidak pernah mengalami tornado atau latihan kebakaran di tempat kerja, dan beberapa mengatakan mereka tidak yakin apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.
John Gasper, profesor ekonomi di Tepper School of Business Universitas Carnegie Mellon, memperingatkan bahwa dia tidak mengetahui secara spesifik apa yang terjadi di Amazon.
Namun, dia mengatakan untuk perusahaan seperti Amazon yang memiliki perputaran tenaga kerja yang tinggi, kemungkinan lebih sulit untuk melakukan jadwal pelatihan darurat secara teratur, terutama selama musim liburan yang sibuk ketika ada banyak pekerja musiman.
“Biaya waktu melakukan latihan juga waktu mereka tidak [memindahkan] paket,” mereka harus memikirkan pengorbanan ini, tapi saya rasa tidak ada perusahaan yang ingin menyakiti karyawannya,” ungkapnya.
Laporan: Muhammad Syahrul Ramadhan



