Sinetron Perang di Laut Utara? - Telusur

Sinetron Perang di Laut Utara?


Oleh: Muslim Arbi

SESUNGGUHNYA manuver alat-alat perang di Laut Utara antara Amerika Serikat (AS) dan China itu hanya sebuah tayangan sinetron belaka. Perang itu tidak akan terjadi. Masa' jarak Kapal perang cuma seratus meter, tapi tidak terjadi tembak menembak? Bukan niat mau provokasi agar perang terjadi, cuma ngeliatnya lucu-lucuan saja.

Sesungguhnya yang terjadi adalah Perang Dagang dan Perang Rebut Pengaruh untuk kuasai Dunia. Amerika di bawah Trump, takut sama China di bawah Xi Jinping dengan PKC-nya. China memang mau kuasai dunia dengan doktrin komunis dan partai tunggalnya. Begitupun China takut kalau AS di bawah Trump tetap menjadi raja dunia.

Dengan gembar gembor pertumbuhan ekonomi dan ambisi untuk ekspansi ekonomi dan pengaruhnya dengan tebar utang di berbagai belahan negara di dunia, publik internasional juga tahu itu gaya cipoa China, gaya tipu-tipu China. Buktinya di Malaysia, PM Mahatir ngamuk soal utang Malaysia di zaman Najib atas China. 

China dengan ambisinya mau kuasai ekonimi dunia, pertahanan, keamanan dan polisi dunia sebagaimana AS lakukan selama ini. Ingin Yuan jadi alat tukar internasional, dan ingin mencengkram dan caplok wilayah lain?.

Sebagaimana China klaim atas Laut Utara Indonesia yang adalah wilayah hukum RI, Tapi mau dicaplok oleh China dengan berbagai dalih yang tidak masuk akal. Bahkan sudah kalah di Pengadilan Internasional di Den Haag. 

Kehadiran AS di Laut Utara itu sebetulnya memberi pelajaran kepada China agar taat hukum dan taat putusan Mahkamah Internasional. Tapi China rupanya punya ambisi, karena di situ ada cadangan gas dan minyak yang besar yang mau di incar dan memperluas wilayah China ke Selatan.

Kehadiran kekuatan Perang AS di laut kelihatannya sampai di situ. Dan AS juga mau tetap berusaha sebagai kekuatan global selama ini. Ini sih bagus-bagus saja. Agar China tidak menjadi imperialis dan caplokis baru. 

Lihat Hong Kong dan Taiwan, itu pelajaran berharga bagi publik dunia atas politik Xi Jin Ping dengan PKC-nya mengontrol kekuasaannya. Partai Komunis memang tidak hendaki ada hak azasi, dan kedaulatan bagi Hong Kong dan Taiwan. 

Gegap gempita dan manuver perang nampak akan lebih diarahkan kepada posisi tawar masing-masing kekuatan bagi AS maupun China yang terlibat perang dagang beberapa waktu belakang ini. 

Jadi, saling tekan antara AS-Cina akan lebih mengarah kepada meja negosiasi dan perundingan. Karena akibat dan biaya yang akan ditanggung ke dua negara itu tidak mudah dan tidak murah.

Tapi satu hal, China mesti harus taat pada putusan Hukum Internasional, karena dalam persidangan waktu itu Cina gagal pertahankan klaim atas wilayah di Laut Selatan itu. Jika tidak akan dianggap sebagai negara pembangkang atas hukum-hukum Internasional. Dan akan dikucilkan, dianggap negara preman.

Apakah shooting sinetron di Laut Utara itu akan tetap berlangsung? Hanya Trump dan Xi Jin Ping yang tahu jawaban nya. Hehehe []


Tinggalkan Komentar