Satu Islam, Tapi Dua Jadwal Puasa, Dua Jadwal Idul Fitri - Telusur

Satu Islam, Tapi Dua Jadwal Puasa, Dua Jadwal Idul Fitri

Ilustrasi AI by Denny JA; “ Satu Islam, Tapi Dua Jadwal Puasa, Dua Jadwal Idul Fitri - Inikah Pilihan Ideal yang Terus Berlaku Selamanya? Perlunya Kesatuan Kalender Hijriah?”

telusur.co.idOleh : Denny JA

- Inikah Pilihan Ideal yang Terus Berlaku Selamanya? Perlunya Kesatuan Kalender Hijriah?

Esai ini menghormati perbedaan penetapan Hari Raya 2026. Namun sekaligus mengajukan pertanyaan yang lebih dalam.

Akankah lebih baik bagi umat Islam di seluruh dunia jika memiliki kalender global yang sama, sehingga sejak jauh hari dapat menetapkan hari raya yang serentak, satu hari raya di hari yang sama di seluruh dunia?

Setiap kali datang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, umat Islam kembali dihadapkan pada satu kenyataan yang berulang. Jadwal yang berbeda.

Seorang suami dari NU, dan istri dari Muhammadiyah, tak jarang harus mengalahkan keinginan paling sederhana. Merayakan hari besar bersama.

Istri yang Muhammadiyah memulai puasa satu hari lebih dulu. Dan berhari raya satu hari lebih dulu.

Ketika istri berhari raya, suaminya masih dalam kondisi berpuasa. Anak-anak yang belum memiliki afiliasi kuat, sebagian ikut ibu, sebagian ikut ayah.

Secara lahir, semua tampak damai. Secara batin, ada yang terasa terbelah.

Akan berbeda suasana jika satu keluarga bersama memulai puasa, dan bersama pula merayakan Idul Fitri.

Tahun 2026, peristiwa ini kembali terulang. Muhammadiyah menetapkan Idul Fitri pada 20 Maret 2026. Pemerintah melalui sidang isbat menetapkan pada 21 Maret 2026.

Perbedaan ini bukan hal baru. Ia telah menjadi pola. Namun justru karena berulang, pertanyaan itu menjadi semakin mendesak. Apakah ini kondisi yang ideal untuk selamanya?

Saya publikasi kembali tulisan lama saya tentang kemungkinan umat Islam memiliki kalender Hijriah global, di era artificial intelligence ini.

Satu Idul Fitri di tanggal dan hari yang sama di seluruh dunia. Perlukah dan mungkinkah?

Akan datang satu masa. Itulah hari ketika umat Islam di seluruh dunia memiliki kalender Hijriah global yang sama.

Sejak tahun itu, muslim di Arab Saudi, Amerika Serikat, Indonesia, dan berbagai pelosok dunia merayakan Idul Fitri pada hari dan tanggal yang sama. Sebagaimana umat Nasrani merayakan Natal.

Berbulan-bulan sebelumnya, umat Islam sudah mengetahui. Di seluruh dunia, Idul Fitri akan jatuh pada tanggal yang sama.

Pada hari itu, umat Islam bertakbir dalam satu kesadaran waktu yang serempak. Bersilaturahmi dalam suasana global yang sama. Sebuah pengalaman spiritual yang tidak hanya personal, tetapi juga kolektif dan universal.

Imajinasi ini lahir bukan dari teori. Ia lahir dari pengalaman yang berulang. Dari rasa yang terbelah setiap kali dua hari raya hadir dalam dua waktu yang berbeda.

Perasaan saya selalu bercampur setiap kali menyaksikan dua versi Idul Fitri.

Di satu sisi, ada rasa bangga. Toleransi umat Islam begitu luas. Perbedaan tidak melahirkan konflik.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih sunyi. Mengapa setelah 1500 tahun, umat ini belum memiliki satu kalender yang sama?

Kita hidup di era ketika manusia mampu memprediksi gerhana puluhan tahun ke depan. Kita hidup di zaman artificial intelligence. Kita bahkan dapat memetakan gerak benda langit dengan presisi tinggi.

Namun untuk satu hal yang paling mendasar dalam kehidupan spiritual bersama, kita masih berbeda.

Apakah ini semata soal teknis? Ataukah ini cermin dari sesuatu yang lebih dalam?

Saya terenyuh mendengar kisah Akbar di Pamekasan. Ia berhari raya lebih dulu. Istrinya sehari setelahnya. Ayahnya juga berbeda hari.

Tidak ada pertengkaran. Tidak ada konflik. Namun kebahagiaan yang seharusnya utuh, menjadi terpecah dalam diam.

Yang terjadi bukan sekadar perbedaan tanggal. Yang terjadi adalah fragmentasi pengalaman batin.

Dan kasus seperti Akbar bukan satu dua. Ia terjadi di banyak keluarga. Di Indonesia. Di dunia Islam.

Secara keilmuan, sebenarnya tidak ada masalah. Menentukan awal bulan Hijriah hari ini sangat mudah. Jauh lebih mudah dibandingkan masa lalu.

Kita dapat menghitung posisi bulan dengan presisi. Kita dapat memprediksi kemunculan hilal jauh hari sebelumnya.

Jika gerhana 50 tahun mendatang dapat dihitung, maka menentukan awal Syawal tentu jauh lebih sederhana.

Masalahnya bukan pada ilmu. Masalahnya ada pada interpretasi. Pada otoritas. Pada ego kolektif. Baik ego negara, maupun ego organisasi.

Semua berangkat dari hadis yang sama:

“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah menjadi 30 hari.”

Namun dari satu teks yang sama, lahir banyak pendekatan.

Apakah hilal harus dilihat dengan mata telanjang?
Apakah boleh menggunakan alat bantu?
Apakah cukup dengan hisab astronomi?
Apakah rukyat di satu tempat berlaku global?

Perbedaan ini bukan semata teknis. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar.

Apakah agama dipahami secara literal seperti pada masa awal, ataukah ia berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan?

Dan lebih jauh lagi. Siapa yang berhak menentukan kesepakatan bersama umat ini?

Upaya menyatukan kalender Hijriah sebenarnya telah lama ada.

Sejak 1958, Ahmad Muhammad Syakir telah menyuarakan perlunya kalender global. Ia melihat bahwa kesatuan waktu ibadah bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga memiliki implikasi hukum.

Hadits lain menyebutkan:

“Puasa itu adalah pada hari semua kamu berpuasa, dan idulfitri itu adalah pada hari semua kamu beridulfitri.”

Hadis ini mengandung satu imajinasi besar. Bahwa umat ini suatu saat berbagi waktu yang sama. Namun imajinasi itu belum menjadi realitas.

Berbagai pertemuan internasional telah dilakukan. Termasuk seminar di Turki tahun 2016.

Secara keilmuan, sudah ada lima prinsip yang dapat menjadi dasar kalender global:

Pertama, rukyat global. Hilal yang terlihat di satu tempat berlaku untuk seluruh dunia.

Kedua, kesatuan matlak. Bumi dipandang sebagai satu kesatuan, bukan wilayah terpisah.

Ketiga, penggunaan hisab astronomi sebagai dasar utama.

Keempat, penerimaan garis tanggal internasional sebagai acuan global.

Kelima, kesepakatan politik dan kelembagaan antar negara dan organisasi besar.

Empat prinsip pertama adalah soal ilmu. Prinsip kelima adalah soal kemauan. Dan seringkali, yang terakhir justru paling menentukan.

Dua buku ini dapat memperkaya wawasan kita memahami perbedaan menentukan hari raya.

1. The Astronomical Calculations and Ramadan: A Fiqhī Discussion, Zulfiqar Ali Shah, International Institute of Islamic Thought (IIIT), 2009

Buku ini mengeksploras satu karya paling awal dan berani dalam membahas penggunaan ilmu astronomi dalam penentuan awal bulan Hijriah. 

Ia mulai dengan menganalisa karya Ahmad Muhammad Shākir, seorang ulama hadis terkemuka dari Mesir, mengkritik pendekatan tradisional yang hanya mengandalkan rukyat atau pengamatan langsung hilal dengan mata telanjang.

Ia berargumen bahwa hadis Nabi tentang “melihat hilal” harus dipahami dalam konteks zaman, ketika ilmu astronomi belum berkembang. 

Menurutnya, tujuan utama syariat adalah kepastian waktu ibadah, bukan metode literalnya. Karena itu, ketika ilmu pengetahuan telah mampu menghitung posisi bulan dengan akurasi tinggi, maka hisab justru lebih mendekati kepastian yang diinginkan syariat.

Shākir juga menekankan pentingnya kesatuan umat dalam menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri. Ia melihat bahwa perbedaan penetapan hari raya bukan sekadar masalah teknis, tetapi berpotensi merusak simbol persatuan umat Islam.

Buku ini menjadi fondasi penting bagi gagasan kalender Hijriah global, karena menggeser paradigma dari “melihat secara fisik” menuju “mengetahui secara ilmiah”, sekaligus membuka ruang bagi reinterpretasi fikih di era modern.

2. Towards a Unified Islamic Calendar, Penulis: Mohammad Ilyas, 1984.

Buku ini merupakan karya penting yang menggabungkan ilmu astronomi modern dengan kebutuhan praktis umat Islam global. 

Mohammad Ilyas, seorang astrofisikawan asal Malaysia, mencoba merancang sistem kalender Hijriah yang dapat digunakan secara seragam di seluruh dunia.

Ia mengembangkan konsep International Lunar Date Line (garis tanggal bulan internasional), yang berfungsi seperti garis tanggal internasional dalam kalender Masehi. 

Dengan pendekatan ini, awal bulan Hijriah tidak lagi ditentukan secara lokal, tetapi berdasarkan kriteria global yang konsisten dan dapat dihitung.

Ilyas juga memperkenalkan parameter ilmiah untuk menentukan visibilitas hilal, seperti tinggi bulan, sudut elongasi, dan kondisi atmosfer. 

Dengan demikian, penentuan awal bulan tidak lagi bergantung pada subjektivitas pengamatan, tetapi pada standar ilmiah yang dapat diverifikasi.

Buku ini menekankan bahwa tanpa sistem global, umat Islam akan terus mengalami perbedaan dalam menentukan hari-hari penting keagamaan. Ia melihat kalender Hijriah global sebagai kebutuhan peradaban modern, bukan sekadar pilihan teknis.

Karya ini menjadi salah satu referensi utama dalam diskusi internasional tentang penyatuan kalender Islam, karena menawarkan solusi konkret yang menggabungkan sains, praktik ibadah, dan kebutuhan globalisasi umat.

Kesatuan kalender Hijriah bukan hanya soal melihat bulan, tetapi tentang bagaimana umat Islam memilih antara tradisi yang terpisah atau masa depan yang terkoordinasi.

Terciptanya kalender Hijriah global akan menjadi lompatan penting dalam sejarah umat Islam.

Selama 15 abad, umat ini berkembang dalam beragam tradisi, budaya, dan pemikiran.

Namun di tengah keragaman itu, selalu ada satu kerinduan yang sama. Kesatuan.

Dunia hari ini telah menjadi global. Bukan hanya dalam ekonomi dan teknologi. Tetapi juga dalam kesadaran. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu secara teknis.

Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia secara kolektif. Karena mungkin, yang belum kita satukan bukanlah kalender. Tetapi cara kita melihat diri kita sendiri sebagai satu umat.

Jika suatu hari nanti Idul Fitri dirayakan serentak di seluruh dunia, itu bukan sekadar keberhasilan ilmiah.

Itu adalah tanda bahwa umat ini telah melampaui perbedaan-perbedaan kecilnya, dan menemukan kembali kesatuan jiwanya.

Dan pada hari itu, tak ada lagi keluarga yang merayakan kemenangan dalam waktu yang berbeda. Karena yang disatukan bukan hanya hari.  Tetapi juga rasa memiliki yang sama sebagai satu umat. 

Kalender Hijriah global tunggal bukan sekadar proyek teknis para ahli falak, tetapi ikhtiar peradaban. Di dalamnya, ilmu pengetahuan, fikih, dan kerinduan spiritual umat bertemu dalam satu cita-cita kesatuan.

Harmonisasi ini menuntut keberanian otoritas untuk melampaui ego sektoral. Dialog intensif antara pemerintah, ormas, dan pakar astronomi adalah kunci kunci utama guna menyelaraskan kriteria teknis demi kemaslahatan umat yang utuh.

Kalender global tidak menyatukan waktu dengan sendirinya. Ia hanya menyediakan kerangka. Yang menyatukan waktu adalah kesediaan umat untuk tunduk pada satu kesepakatan bersama.

*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum SATUPENA, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).


Tinggalkan Komentar