Rusia: Invasi Darat ke Iran Akan Jadi Vietnam Baru Bagi Amerika - Telusur

Rusia: Invasi Darat ke Iran Akan Jadi Vietnam Baru Bagi Amerika

Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev . Foto: Istimewa

telusur.co.id - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan AS bahwa nasib invasi darat ke Iran akan berujung pada kekalahan telak. Langkah tersebut akan menjebak Washington dalam situasi sulit yang mirip dengan Perang Vietnam.

Medvedev menggambarkan tindakan AS di Iran sebagai "kesalahan strategis besar," dan menekankan bahwa rezim AS akan menanggung konsekuensinya.

Di tengah laporan tentang persiapan AS untuk serangan darat terhadap Iran, Medvedev menyatakan bahwa operasi semacam itu akan memiliki konsekuensi yang sulit bagi Washington. Apalagi, Teheran telah berulang kali menyatakan kesiapannya untuk menghadapi langkah tersebut.

Pernyataan-pernyataannya muncul di tengah laporan bahwa koalisi AS-Israel berencana untuk menduduki Pulau Kharg dalam upaya memaksa Iran untuk membuka Selat Hormuz bagi kapal-kapal mereka.

Medvedev menekankan bahwa serangan darat dapat memiliki konsekuensi yang sama bagi AS seperti Perang Vietnam. Di mana Amerika mengalami kekalahan.

"Terlibat dalam operasi darat yang terlalu jauh dari wilayah AS akan membawa konsekuensi yang hampir sama dengan Perang Vietnam, ketika Washington mengirim pasukannya ke negara asing yang berjarak ribuan mil, dan selama sepuluh tahun, gagal menemukan solusi yang bermartabat untuk keluar dari konflik,” katanya, dikutip dari Presstv, Jumat (27/3/2026).

Mantan presiden Rusia itu juga memperingatkan bahwa setiap potensi invasi darat AS ke Iran akan memiliki konsekuensi "mematikan" bagi kawasan tersebut.

Pada hari Kamis, komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi memperingatkan musuh agar tidak melakukan serangan darat. Hal itu akan "lebih berbahaya dan mahal" bagi mereka.

“Pasukan Angkatan Darat Iran berdiri teguh dan kokoh di garis depan pertahanan dan mereka akan melumpuhkan musuh,” tambahnya.

Angkatan bersenjata Iran telah merespons dengan melancarkan operasi rudal dan drone hampir setiap hari menargetkan posisi di wilayah pendudukan Israel, serta pangkalan dan aset militer AS di seluruh wilayah tersebut.

Mereka juga telah memblokir Selat Hormuz yang strategis bagi kapal tanker minyak dan gas yang berafiliasi dengan pihak musuh dan pihak yang bekerja sama dengan mereka.

Di bagian lain pidatonya, Medvedev mengatakan bahwa AS telah meyakinkan negara-negara Teluk bahwa mereka hanya bertindak untuk membela diri dan Israel selama konflik dengan Iran.

Dia memperingatkan bahwa "perang terbesar di Timur Tengah masih di depan," dan bahwa kawasan itu bisa menjadi pusat ketidakstabilan selama berabad-abad.

Setelah agresi AS-Israel terhadap Iran, para pejabat Rusia mencatat bahwa beberapa negara Arab di Teluk Persia akan berupaya untuk "membangun perisai nuklir mereka sendiri."[Nug]


Tinggalkan Komentar