Peneliti UNUSia: Intoleransi Terjadi Ketika Ada Kelompok Merasa Paling Benar - Telusur

Peneliti UNUSia: Intoleransi Terjadi Ketika Ada Kelompok Merasa Paling Benar

Peneliti Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSia), Okky Tirto. (Foto: telusur.co.id/Bambang Tri).

telusur.co.id - Peneliti Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSia) Okky Tirto mengatakan, bangsa Indonesia sudah matang dipanggang sejarah jika bicara soal toleransi.

Namun, kata dia, persoalan toleransi selalu menjadi perbincangan yang hangat ketika memasuki Bulan Suci Ramadhan. Pasalnya, ada perbedaan pendapat di antara masyarakat menyikapi masih adanya rumah makan atau restoran yang buka pada siang hari di Bulan Ramadhan.

"Ada beberapa kelompok yang mengatakan harusnya tutup, bahkan ada yang melakukan razia dan seterusnya," kata Okky dalam Diskusi 4 Pilar MPR bertajuk 'Menjaga Toleransi di Bulan Ramadhan' di Media Center Parlemen, Senayan, Senin (12/4/21).

Hal ini, kata Okky, menjadi pertanyaan bukankah agama juga mengatur bahwa ada kondisi-kondisi tertentu dimana orang dibolehkan untuk tidak berpuasa.

Dia menjelaskan, orang yang berpuasa dan orang yang diperbolehkan tidak berpuasa memakai dalil ayat yang sama dalam kitab suci.

"Jadi sebetulnya berangkat dari surat dan kitab suci yang sama, kira-kira begitu.
Cuma praktiknya di lapangan nggak. Ini menunjukkan bahwa masih ada disparitas antara keberagamaan di satu sisi sebagai praktik, dengan agama sebagai  nilai-nilai yang luhur," terangnya.

Karenanya, hal itu menjadi tantangan bagi para tokoh agama untuk membunyikan kaidah-kaidah yang kurang familiar tersebut.

Yang menarik, kata dia, adalah ketika kaitannya dengan warga negara atau masyarakat dengan pemerintah. Bagaimana kemudian ruang-ruang toleransi dimanage sedemikian rupa. 

Dia menceritakan, dari pengalaman Eropa misalnya,  bagaimana Jerman setengah mati mengakomodasi imigran  yang masuk ke negara itu. Akhirnya mereka mengadaptasi multikulturalisme yang diusung oleh Canada. Bahwa poinnya adalah untuk menghormati  orang-orang dari Timur Tengah atau Turki  yang pindah ke Jerman,  mereka tidak diharuskan untuk mengadopsi kebudayaan Jerman,  jadi mereka tetap boleh mempertahankan kultur Turkinya atau kultur Timur Tengahnya,  sepanjang mereka memiliki kesetiaan politik pada negara.

"Problemnya adalah Islam di sana minoritas,  sehingga bicara kulturalisme toleransi lebih enak ya, narasinya lebih gampang gitu. Di kita (Indonesia) Islamnya mayoritas, sehingga kalau bicara toleransi dalam circle Islam sendiri yang terjadi justru antara umat. Kalau di Kristen istilahnya antar denominasi,  tapi kalau di Islam mungkin antar mazhab jadi menjadi topik sektarianisme,  kalau saya melihatnya begitu, ini yang menjadi hot sebetulnya di Indonesia," bebernya.

"Kenapa itu bisa terjadi, karena ada klaim kebenaran, masing-masing orang atau masing-masing kelompok yang berasal dari kelompoknya tertentu dengan latar belakang mazhab tertentu menganggap bahwa dirinya yang paling benar dan selainnya nggak benar,  ini yang menjadi soal," tambahnya.

Kalau  mau belajar dari Ramadhan, lanjut dia, hidangan yang ada di meja ketika buka puasa itu kan sebelum cukup memberikan pelajaran bagaimana orang memilih berbuka puasa dengan ada yang memilih teh, ada yang memilih kopi,  susu dan air putih. Hal itu adalah perbedaan dan tidak ada masalah dengan itu.

"Menjadi soal ketika seseorang menyalahkan cara  berbuka orang lain dan mengklaim cara berbuka dia yang paling benar,  itu mulai permasalahan," ungkapnya.

"Artinya, sepanjang keragaman itu dirayakan tanpa tendensi bahwa dirinya yang paling benar dan selainnya adalah salah, sebenarnya ga ada masalah dengan perbedaan itu dan keragaman faktual yang ada. Multikultur yang ada di Indonesia sebetulnya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan itu semua bahwa sejauh ini fine-fine saja kalau horizontal," pungkasnya. [Tp]


Tinggalkan Komentar