telusur.co.id - Pasukan pemerintah Suriah mengklaim berhasil merebut kota-kota kecil di barat kota Aleppo yang selama ini dikuasai oleh pasukan pemberontak.
Menurut media pemerintah, serangan ganas yang didukung oleh serangan udara Rusia, memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka.
Selanjutnya, pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad akan melanjutkan serangan di wilayah Idlib dan daerah tetangga provinsi Aleppo dan Latakia.
Anggota tentara Suriah ditempatkan di distrik al-Rashidin 1, di pedesaan barat daya Aleppo, pada 16 Februari 2020.
Kemajuan terbaru datang setelah pasukan al-Assad mengusir pejuang pemberontak dari jalan raya utama M5 yang menghubungkan Aleppo ke ibukota, Damaskus, dan membuka kembali rute tercepat antara dua kota terbesar Suriah untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.
Sementara itu, pemberontak yang didukung Turki telah meluncurkan operasi di Idlib untuk merebut kembali daerah yang hilang dari pasukan al-Assad. Kantor berita Anadolu yang dikelola pemerintah Turki mengatakan pada hari Minggu bahwa konvoi bala bantuan berkapasitas 100 kendaraan, termasuk pasukan, tank dan kendaraan serta peralatan militer, telah dikerahkan ke Idlib.
Turki sejauh ini telah mengirim ribuan tentara dan ratusan konvoi peralatan militer untuk memperkuat pos pengamatannya di Idlib, yang didirikan berdasarkan perjanjian de-eskalasi 2018 dengan Rusia.
Di bawah kesepakatan itu, Turki memiliki 12 pos pengamatan di Idlib, dengan beberapa di antaranya sekarang berada di wilayah yang dikuasai pemerintah Suriah menyusul kenaikan Damaskus.
Pembicaraan Turki-Rusia
Ketika pasukan pemerintah Suriah melanjutkan dorongan mereka di barat laut, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada Rusia bahwa serangan di Idlib harus segera dihentikan dan gencatan senjata yang langgeng harus dicapai.
Berbicara kepada wartawan saat briefing di Konferensi Keamanan Munich, Cavusoglu mengatakan para pejabat Turki dan Rusia akan membahas masalah ini di Moskow pada hari Senin.
Serangan itu telah memicu gelombang pemindahan terbesar dalam perang yang menghancurkan Suriah, dengan lebih dari 800.000 orang melarikan diri ke perbatasan Turki sejak Desember, menurut PBB.
Pekerja bantuan telah memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan di daerah perbatasan yang penuh sesak telah menjadi mengerikan. Sekitar satu juta orang terlantar tinggal di dekat perbatasan, dengan kamp-kamp pengungsi sudah dalam kapasitas penuh. [ham]



