Paham Ekstremisme Banyak Menyasar Kaum Muda, Ini Kata Wakil Ketua MPR - Telusur

Paham Ekstremisme Banyak Menyasar Kaum Muda, Ini Kata Wakil Ketua MPR

Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah. (Foto: telusur.co.id/Bambang Tri).

telusur.co.id - Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah mengakui bahwa perkembangan aksi terorisme yang terjadi di Indonesia belakangan ini banyak para pelakunya dari kalangan generasi muda atau milenial.

Dalam kajian terhadap aksi terorisme di wilayah NKRI mulai dari Tahun 2000 sampai dengan tahun 2020, kata Basarah, tercatat ada 553 serangan terorisme.

“Sehingga selama 20 tahun terakhir ini, ada dua kali kejadian aksi teror setiap bulannya kalau diakumulasi secara rata-rata,” kata Basarah dalam diskusi Empat Pilar MPR RI bertajuk ‘Menangkal Penyusupan Paham Ekstremisme di Kalangan Kaum Muda’, di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/4/21).

Politikus PDI Perjuangan itu juga menjelaskan, berdasarkan data statistik yang tercatat, aksi terorisme yang melibatkan generasi milenial dari kelahiran tahun 81-96, itu mencapai 69, 90 Juta atau 25,8 persen.

“Generasi Z yang lahir di tahun 97-2012, mencapai 75,4 juta jiwa atau 27,9 persen, maka prosentasinya ditotal menjadi sekitar 53 persen dari jumlah penduduk Indonesia, jumlah yang tidak sedikit untuk komposisi penduduk Indonesia,” paparnya.

Sehingga, lanjut dia, dari sejumlah fakta-fakta yang ada kaum terorisme menyasar generasi muda yang lapisannya memang begitu amat besar.

“Karena memang pada umumnya generasi muda ini masih memiliki jiwa militansi yang begitu kuat. Sehingga, kalau berhasil direkrut, mereka akan menjadi teroris yang sangat militan,” ungkapnya.

Basarah juga sempat mengungkapkan saat dirinya menghadiri kegiatan diskusi yang dihadiri mantan teroris pelaku bom Bali, Ali Imron, untuk merubah seseorang menjadi teroris, melakukan aksi terorisme hanya cukup diberikan waktu 2 jam saja, sudah bisa membuat orang jadi teroris.

"Namun untuk mengembalikan dari teroris untuk kembali menjadi manusia normal, itu membutuhkan waktu yang lama," terangnya.

Persoalannya, kata dia, hari ini di tengah banyaknya generasi produktif penduduk kita, kelompok teroris dipermudah untuk melakukan aksi rekrutmen, kemudian brainwashing dan indoktrinisasi dengan kemudahan teknologi yang ada.

“Jadi kalau dulu mereka merekrut calon-calon pengantin untuk dibrainwash dan didoktrin ini dibawa ke satu forum, satu tempat, satu daerah yang sangat kondusif untuk mereka melakukan aksi terorisme, sekarang mereka cukup menggunakan teknologi informasi yang tersedia,” pungkasnya. [Tp]


Tinggalkan Komentar