telusur.co.id - Konsep dan implementasi poros maritim yang digaungkan Presiden Joko Widodo hingga dua periode masa jabatannya dinilai tidak jelas.
Penilaian tersebut diungkapkan Pengamat Kemaritiman Siswanto Rusdi dalam Diskusi Empat Pilar MPR RI bertema ‘Meneguhkan Kedaulatan Maritim NKRI (Penguatan Pertahanan dan Keamanan) di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (27/9/21).
Tak hanya itu, menurut Siswanto, poros maritim yang dijanjikan Jokowi kala kampanye pemilihan presiden 2014 pun saat ini hampir tak terdengar lagi.
“Poros maritim pada 2019-2024 ini kalau hilang mungkin tidak, cuma kata orang di Pekanbaru itu istilahnya Ijal, indak jaleh, atau tidak jelas,” ujar Siswanto.
Siswanto menjelaskan, kalau bicara poros maritim, maka harus melihat kembali pada doktrin pertahanannya yang juga mestinya mengutamakan pertahanan maritim. Tetapi, katanya, hingga sekarang doktrin pertahanan Indonesia masih terpusat di pulau-pulau besar.
“Jadi doktrin pertahanan kita itu menempatkan pasukan yang besar di pulau-pulau besar. Kalau ada musuh yang masuk, baru dipukul. Harusnya, kalau poros maritim, musuh dipukul jauh sebelum sampai daratan,” terangnya.
Dia menuturkan, dengan doktrin pertahanan seperti itu, maka TNI Angkatan Laut, dan Angkatan Udara hanya sekedar elemen pendukung saja.
“Bayangkan saja Angkatan Laut itu personilnya 70-an ribu, bandingkan dengan Angkatan Darat yang 300 ribu lebih, yang paling sedikit Angkatan Udara 30-an ribu,” jelasnya.
Ia pun membandingkan dengan Singapura, yang negaranya jauh lebih kecil dibanding kita namun punya konsep pertahanan maritim yang jelas.
“Armada perang Singapura itu ada yang ditaruh di Taiwan kapal perangnya, Singapura juga jalin kerja sama pertahanan dengan negara lain yang bisa dipanggil atau bisa menghancurkan musuh di ujung, sebelum masuk ke Singapura. Jadi ini konsep mempertahankan pulau Singapura,” paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Anggota MPR RI dari kelompok DPD, Nono Sampono, mengiyakan bila kekuatan Angkatan Darat relatif cukup kuat dibanding dua angkatan lainnya. Dia mengungkapkan, kekuatan Angkatan Laut dan Udara Indonesia sangat lemah bila dibandingkan apa yang pernah dimiliki bangsa ini.
Dia mencontohkan, Indonesia pernah punya 12 kapal selam, belum kapal-kapal perusak dan lain-lain setingkat KRI Irian. Sekarang Indonesia tidak punya.
"Kita hanya punya destroyer 3 level di bawahnya. Kita pernah punya pesawat tempur yang luar biasa dan pembom strategis, sekarang kita punya apa, pesawat pem bom tidak ada, kita punya Fighter saja, F-16 dan Sukhoi tapi bukan pesawat pembom strategis. Jadi ketinggalan jauh,” ujar Nono. [Iis]
Konsep Poros Maritim yang Digaungkan Jokowi Dinilai Tidak Jelas
Diskusi Empat Pilar MPR RI bertema ‘Meneguhkan Kedaulatan Maritim NKRI (Penguatan Pertahanan dan Keamanan) di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (27/9/21). (Foto: telusur.co.id/Bambang Tri).



