telusur.co.id - Republik Iran mengutuk keras pertemuan para menlu dari empat negara Arab dengan para pejabat Israel dan Amerika Serikat (AS) di kota Negev, Israel (Palestina pendudukan 1948).
Jubir Kemlu Iran Saeed Khatibzadeh, Senin (28/3/22), menyebut pertemuan itu sebagai “pertemuan keji” dan pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.
Pertemuan itu sendiri melibatkan para menlu dari tiga negara Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020, yaitu Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan Maroko, dengan para pejabat Israel dan Menlu AS Antony Blinken. Pertemuan ini juga dihadiri Menlu Mesir, Sameh Shoukry.
“Langkah apapun untuk menormalisasi dan membangun hubungan dengan teroris Zionis dan penjajah Quds adalah tikaman ke punggung bangsa tertindas Palestina dan merupakan hadiah bagi rezim pembunuh anak-anak Israel untuk melanjutkan pembunuhan orang-orang (Palestina) dan pendudukan tanah mereka,” tegas Khatibzadeh, seperti dikutip Al-Alam.
“Pengalaman sejarah sudah membuktikan bahwa proses kompromi dan ketundukan tidak membawa apa-apa kecuali kekalahan dan kehinaan bagi para pendukungnya," tambahnya.
Juru bicara Kemlu Iran ini memastikan Palestina tak bisa dibebaskan kecuali melalui perlawanan bangsa Palestina dan dukungan dari negara-negara Muslim.
Khatibzadeh mengakiri komentar pedasnya itu dengan memperingatkan Israel untuk tidak mencoba menebar hasutan dan kerusakan di kawasan Timur Tengah.
Dia juga menekankan kesiapan Iran bekerja sama dan memperluas hubungannya dengan negara-negara regional demi mengandaskan sepak terjang dan persekongkolan Israel dan AS untuk membangkitkan perselisihan dan instabilitas di kawasan.
Sebelumnya, para diplomat senior dari Mesir, UEA, Maroko, Bahrain, AS, dan Israel mengakhiri pertemuan dua hari mereka di gurun Negev pada hari Senin (28/3/22). Pertemuan itu bertujuan melanjutkan normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dengan Israel yang dimediasi oleh AS. [Tp]
Iran: Pertemuan Negara-negara Arab dengan Israel adalah Tikaman ke Palestina

Pertemuan Israel dengan empat negara Arab di Negev. (Foto: timesofisrael).