telusur.co.id - Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani, di akun Twitternya menulis kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, "Mengakui kekalahan dari Iran, lebih baik daripada membual secara bodoh, dan tanpa malu."
“Lebih dari 40 tahun Amerika mengerahkan semua kekuatannya untuk mengalahkan Iran, tapi tetap gagal," cuit Ali Shamkhani seperti dikutip Parstoday, Minggu (19/7/20).
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Sabtu (18/7/20) menjelaskan bahwa dalam menghadapi negara-negara seperti Iran “hanya kekuatan yang memberi jawaban bukan cara-cara damai”. Pompeo pun mengklaim bahwa Amerika saat ini telah mengimplementasikan kebijakan baru terhadap Iran.
Pompeo yang menurut Menteri Luar Negeri Iran telah berubah menjadi Menteri Perminyakan Kabinet Trump, sekalipun mengklaim bahwa Iran telah merasakan konsekuensi dari kebijakan ini, juga merasa bangga atas langkah teroris Amerika Serikat dalam meneror Letjen Qassem Soleimani. Padahal, pekan lalu Pelapor Khusus PBB menyebut langkah teroris AS dalam menggugursyahidkan Letjen Qassem Soleimani telah melanggar aturan internasional.
Sejauh ini, Iran tidak pernah mengejar ketegangan dan konflik militer di kawasan, tetapi menunjukkan kepada para musuh dan agresor bahwa di setiap ruang dan waktu yang diperlukan akan menindak faktor dan anasir yang ingin merusak keamanan. Iran juga memiliki banyak kartu truf untuk membalas yang pasti akan membuat para agresor kebingungan.
Analis di Pusat Studi Strategis dan Internasional Washington, Anthony Cordesman, dalam sebuah penelitiannya mencatat kemampuan Iran untuk membela diri.
“Jika ada petualangan militer terhadap Iran, Tehran akan menciptakan gelombang gempa di kawasan. Karena Iran memiliki banyak rencana militer untuk menargetkan kepentingan AS di kawasan,” ujar Anthoni.
Saat ini, era penerapan kebijakan hegemonik dan unilateralisme Amerika sudah berakhir.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam sebuah pidatonya, merujuk pada komponen utama dari kekuatan bangsa Iran menjelaskan, "Musuh harus tahu bahwa jika mereka berpikir untuk menyerang Iran, mereka akan menghadapi reaksi yang sulit, karena mereka mungkin yang mengawali, tetapi akhir dari aksi itu tidak akan berada di tangan mereka."
Mengkaji puzzle Iranophobia yang dilakukan AS menunjukkan bahwa tujuan pejabat AS dalam mengulangi omong kosong mereka terhadap Iran adalah untuk menciptakan opini internasional untuk membenarkan ancaman AS terhadap Iran. Dengan kelanjutan dari Iranophobia dan dengan tujuan menghancurkan reputasi Republik Islam, Amerika Serikat berusaha untuk menantang kemampuan pertahanan Iran, yang jelas diupayakan dalam bentuk keprihatinan tentang kemampuan rudal Iran.
"Ini hanya untuk mengarahkan media dan mengalihkan opini publik di Amerika Serikat untuk meyakinkan bahwa Iran mengancam mereka," kata Jim W. Dean, editor situs militer Veterans of Today, tentang motivasi pemerintah AS untuk mengulangi ancaman tersebut.
Faktanya adalah bahwa hegemoni Amerika sedang menurun dan hampir berakhir. Akar kegagalan Amerika terletak pada filosofi politiknya. Para penasihat dan penyerta Trump, termasuk menteri luar negeri yang lebih bodoh daripada Trump, percaya bahwa Iran terintimidasi oleh ancaman AS. Padahal ini telah menjadi mimpi yang tidak mungkin tercapai bagi Amerika. [Tp]



