telusur.co.id - Deputi sekjen Hizbullah Syekh Naim Qassim menyatakan, masalah di kawasan dipicu oleh keberadaan Rezim Zionis Israel. Menurut dia, salah besar jika ada yang menyangka bahwa Israel hanya akan menduduki Palestina, sebab pada hakikatnya, Palestina digunakan Israel sebagai anak tangga untuk menduduki kawasan dan Dunia Islam.
Qassim menegaskan, bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya jalan penyelamatan Palestina.
”Saat kami menyatakan bahwa perlawanan bersenjata adalah satu-satunya solusi, artinya bahwa itu merupakan fondasi dan dasar. Jadi, selain perlawanan bersenjata, ada pula jenis perlawanan efektif lain untuk membebaskan Palestina,” kata Qassim seperti dilansir tasnimnews, Rabu (12/2/20).
Kekuatan arogansi dunia, kata Qassim, hanya memahami (bahasa) perlawanan untuk pembebasan Palestina. Dengan demikian, arogansi dunia atau AS tak bisa diharapkan untuk mencari solusi politik demi membebaskan Palestina.
“Bangsa Palestina-lah yang membinasakan Perjanjian Abad Ini sebelum diimplementasikan," ungkap Qassim.
Dijelaskannya, Trump berusaha meluncurkan proposalnya dalam dua tahap. Pertama adalah tahap ekonomi, yang tujuannya adalah mengelabui rakyat Palestina dengan menggulirkan isu-isu ekonomi. Kedua adalah tahap politik, yang tujuannya adalah mengubah wajah kawasan pasca peresmian proposal ini.
“Kenapa kita ingin melawan Perjanjian Abad Ini, walau itu sudah mati sebelum dilahirkan? Sebab jangan sampai terekam di benak siapa pun di dunia, bahwa skenario soal Palestina bisa dijalankan tanpa kerelaan rakyat Palestina, dan bahwa keseluruhan Palestina, dari laut hingga sungai, tidak dikembalikan ke rakyat Palestina,” lanjutnya.
“Pengalaman menunjukkan bahwa siapa pun yang bersama Iran dan Poros Muqawamah (perlawanan), akan meraih kemenangan dan membebaskan negerinya. Mereka harus tahu bahwa pasca langkah besar dan efektif ini, tak ada peluang kita kembali ke belakang dan menanggung kekalahan,” pungkasnya. [Fhr]



